Metropolis Versi Lengkap

11th Jeonju International Film Festival 2010

1)

Pada setiap festival film, tentu ada daya tarik utama. Bagi saya pribadi, daya tarik utama ketika diundang ke Jeonju International Film Festival di Korea Selatan awal bulan Mei tahun 2010 ini adalah film Metropolis, sebuah film yang dibuat tahun 1927 oleh sutradara Jerman, Fritz Lang. Sedikit tentang film ini, Metropolis diputar pertamakali di Ufa-Palast am Zoo Cinema di Berlin tahun pada tanggal 10 Januari 1927. Selama 4 bulan diputar di bioskop, film ini tak meraih sukses. Metropolis kemudian dibeli oleh distributor Amerika. Ketika diedarkan di Amerika, sang distributor mengubahnya menjadi lebih pendek daripada versi aslinya.

Karena merasa film ini tak laku seperti yang diharapkan, produser film ini, merasa perlu melakukan editing ulang terhadap Metropolis. Maka dari panjang asalnya 4.189 meter, film itu dipotong menjadi 3.241 meter berdasarkan pada versi yang beredar di Amerika. Pemotongan ini dianggap oleh banyak pihak telah mengubah film ini secara signifikan. Usaha untuk merestorasinya banyak terus dilakukan, termasuk diantaranya oleh pemusik Giorgio Moroder yang memberi score musiknya sendiri untuk film itu. Versi ini bahkan sempat mendapatkan Razzie Awards alias penghargaan film terburuk untuk kategori score musik. Versi lain terus diproduksi, dan yang paling dianggap mendekati versi awalnya adalah restorasi yang dilakukan atas pendanaan dari pemilik hak film ini, Yayasan Friedrich-Wilhelm-Murnau di tahun 2001 untuk memperingati 75 tahun film tersebut. Sesudah tahun 2001, versi inilah yang beredar luas.

Sampai kemudian di tahun 2008 ditemukan salinan ini dalam format 16mm, di Buenos Aires, Argentina. Versi ini durasinya dirasa cocok dengan versi yang pernah diputar pertamakali di Ufa Palast. Berdasarkan temuan itulah dilakukan rekonstruksi ulang terhadap film Metropolis sehingga menjadi lebih mendekati versi asli film ini. Bahkan versi ini dianggap benar-benar melengkapi film itu. Jadilah Metropolis karya Fritz Lang ini menjadi The Complete Metropolis yang kini beredar dari festival ke festival.

Saya sendiri pertamakali menonton Metropolis di DVD. Versi yang saya tonton termasuk versi restorasi tahun 2001 dimana beberapa adegan yang hilang sudah digantikan oleh intertitle berbahasa Inggris yang dianggap bisa menjelaskan bagian-bagian yang “hilang” tersebut. DVD ini juga dilengkapi dengan audio-commentary dari sejarawan film Enno Patalas yang kebanyakan berisi analisis mengenai visual motif yang digunakan oleh Fritz Lang di film ini.

2)

Sebelum pergi ke Jeonju, saya menonton sekali lagi DVD Metropolis untuk mengingat kembali film itu guna membandingkan bagian mana saja yang merupakan tambahan baru. Ternyata hal itu menguntungkan karena pemutaran The Complete Metropolis di JIFF ini tanpa dilengkapi dengan intertitle bahasa Inggris. Intertitle – teks yang dipasang di sela-sela gambar pada era film bisu – film ini berbahasa Jerman dengan penerjemahan bahasa Korea di sisi kanan film. Beruntung saya sempat menyegarkan ingatan kembali sehingga masih bisa mengikuti film ini dengan baik tanpa intertitle yang saya mengerti.

Metropolis adalah salah satu film paling awal yang ber-setting dystopia, sebuah masa depan yang suram dan tidak ideal. Film ini menggambarkan sebuah kota dengan gedung pencakar langit super tinggi dan kendaraan modern, termasuk pesawat-pesawat pengangkut penumpang berlintasan. Jelas sekali film-film seperti Blade Runner (Riddley Scott, 1982), Batman Forever (Tim Burton, 1990), The Dark City (Alex Proyas, 1998), The Fifth Element (Luc Besson, 1996) dan sempat dibuat ulang di tahun 2001 dalam bentuk animasi dengan judul Metroplis oleh Osamu Tezuka.

Metropolis merupakan perwujudan sebuah visi yang besar. Ketika membuatnya, Fritz Lang mengaku bahwa ia terinsiprasi dari kunjungannya ke Amerika, ketika melihat pencakar langit di kota New York. Itu yang ia sampaikan kepada sutradara Amerika, Peter Bogdanovitch. Persisnya ia menyatakan bahwa ketika ia melihat West Side New York, saat itulah ide film Metropolis muncul di benaknya. Bisa jadi ini merupakan overdramatisasi saja dari Lang. Sangat mungkin Lang sudah memiliki ide itu sebelum kunjungannya ke Amerika. Namun Metropolis memang menantang batas visual sinema pada saat itu, mungkin serupa dengan ketakjuban orang melihat Avatar buatan James Cameron di tahun 2009 lalu.

Metropolis jelas mengambil manfaat besar dari matte painting, terutama dalam penggambaran kota dan beberapa set. Namun karya ini tetap merupakan sebuah extravaganza yang melampaui batas kreasi manusia melalui sinema saat itu. Satu hal yang saya rasakan adalah efek sinematis yang terasa sangat istimewa. Saya membayangkan bagaimana saya seandainya berada pada tahun 1927 melihat gambar-gambar spektakuler kota dengan gedung super tinggi dan jalan penuh mobil melintas antar gedung serta pesawat kecil sebagai sarana transportasi. Di Jeonju saya menyimpulkan, beginilah seharusnya orang melihat Metropolis, bukan di layar televisi atau laptop. Rasanya saya termasuk orang yang beruntung bisa mengalami menonton Metropolis di layar lebar. Bukan sekadar itu, saya bahkan melihat versi lengkap dari film ini.

3)

Cerita Metropolis sendiri adalah tentang sebuah kota yang digambarkan terbelah dua. Di bawah tanah, kota ini dikendalikan oleh sebuah mesin besar yang dioperasikan oleh para pekerja berpakaian hitam-hitam yang tak pernah melihat sinar matahari. Mereka tinggal di bawah tanah dan berbaris murung setiap berangkat dan pulang kerja. Mereka adalah sekrup yang menjadikan ibu segala kota (mather of a polis) itu bekerja seperti adanya. Bahkan musik yang mengiringi kepergian dan kedatangan mereka ke tempat kerja adalah requiem yang biasa digunakan untuk mengiringi kematian untuk menggambarkan bahwa nasib para pekerja itu serupa belaka dengan nasib orang-orang mati.

Sementara itu di permukaan tanah, Metropolis adalah perwujudan semangat Olympian milik orang kaya. Hal ini digambarkan dalam bentuk sebuah lomba lari di sebuah stadion dengan dinding putih berukuran raksasa. Pemenang pada perlombaan itu adalah Freder, anak dari Joh Fredersen, pengendali seluruh Metropolis. Freder yang muda, optimis dan atletis adalah gambaran sempurna bagi penghuni bagian atas kota itu. Tampak bau obsesi keunggulan ras Arya pada penggambaran sosok Freder. Stadium tempat pertandingan ini juga melambangkan apa yang kemudian menjadi simbol kebesaran The Third Reich, dan bisa dilihat jejaknya dalam film propaganda karya Lenni Reifenstahl. Oh, Hitler dan menteri propagandanya, Joseph Goebbels, juga memuji film Metropolis ini.

Bentrokan antara dunia bertolakbelakang itu terjadi ketika Freder yang riang dan naïf sedang bermain di taman bersama perempuan di sekelilingnya didatangi oleh Maria seorang guru TK yang datang bersama puluhan murid kecilnya. Freder terkejut. Ia tak pernah melihat perempuan dengan semangat yang murni dan tulus seperti itu. Ia mengikuti Maria dan tiba di perut kota. Alih-alih bertemu Maria, Freder melihat mesin besar pengendali kota itu. Sang mesin, simbol keperkasaan dan keteraturan, ternyata mengalami kesalahan dan memakan tumbal. Ia berubah menjadi Moloch – salah satu perwujudan iblis – dan menelan para pekerja ke dalamnya. Freder yang menyaksikan peristiwa mengerikan itu tak bisa membedakan apakah ia bermimpi atau tidak. Ia kemudian lari sekencang-kencangnya meninggalkan perut bumi dan mengadu pada ayahnya, Sang Penguasa Metropolis, Joh Fredersen.

Joh Fredersen. Joh – sebuah bentuk pendek dari Jehovah, tuhan bangsa Yahudi – adalah seorang penguasa yang efektif. Di kantornya yang bernama menara Babel, ia dan asistennya, Josaphat, menjalankan mesin besar itu dengan pengendalian yang nyaris sempurna, termasuk menggunakan alat komunikasi jarak jauh berkamera. Maka ketika Freder menghambur berceritadengan panik tentang mesin yang berubah menjadi Moloch, Joh Fredersen kaget. Mengapa, Josaphat, kudengar berita ini dari anakku dan bukan darimu?, kata Joh. Dan ini adalah kesalahan besar buat seorang pemuja kesempurnaan seperti Joh.

Tak cuma itu. Grot, mandor para pekerja, menemukan sebuah peta misterius di saku salah seorang anak buahnya. Ia pun melapor pada Joh. Sekali lagi Joh kaget dan kecewa pada Josaphat. Maka dipecatlah Josaphat yang setia.

Josaphat kecewa dan hidupnya hancur. Ia pergi meninggalkan Menara Babel dengan tertunduk dan berniat bunuh diri. Freder mengejar. Dibujuknya Josaphat untuk bekerja padanya. Freder lantas meminta Josaphat menunggu di rumahnya sementara ia kembali ke pusat mesin untuk melihat keadaan pekerja di sana. Freder tahu bahwa ia harus menghentikan sang mesin dari memakan kota dan kehidupan yang dicintainya itu, dan ia perlu orang seperti Josaphat yang mengetahui dengan baik bagaimana cara mengendalikan Metropolis. Freder menyuruh Josaphat menunggu di rumahnya sementara ia kembali ke perut kota.

Setiba Freder di perut kota, ia bertukar pakaian dengan seorang pekerja dan meminta pekerja itu ke rumah Josaphat untuk memberi tahu Josaphat bahwa Freder akan datang nanti. Diberinya alamat Josaphat kepada pekerja bernomer 11811 itu. Maka Freder menjadi pekerja. Sementara si 11811 berganti memakai baju Freder, lengkap dengan uang dan prestise di saku. 11811 tak peduli pada janji temu dengan Josaphat. Alamat Josaphat pun dibuang dan ia berbelok ke Distrik Yoshiwara, sebuah distrik lampu merah tempat dimana segala hasrat rendah disalurkan.

Adegan distrik Yoshiwara inilah salah satu bagian yang hilang dari Metropolis. Tak ada penggambaran sama sekali mengenai kegiatan di distrik ini dalam Metropolis versi singkat. Di The Complete Metropolis, seperti yang saya duga adegan distrik Yoshiwara dikembalikan di tempatnya.

Adegan distrik Yoshiwara yang hilang ternyata cukup panjang. Di situ digambarkan bagaimana pekerja 11811 berpesta pora dan bersenang-senang. Tampak sekali bahwa adegan ini dibuat untuk melekatkan atribut moral mulia kepada tindakan Freder yang menggantikan tangan si pekerja 11811, sementara yang bersangkutan bersenang-senang. Adegan ini memang berimplikasi kompleksitas pada karakter pekerja di Metropolis. Pekerja – yang diwakili oleh 11811 – adalah orang-orang yang berpikiran sempit dalam gambaran film ini. Maka di film ini pekerja dijuluki sebagai “tangan” yang menandakan bahwa mereka mengerjakan pekerjaan kasar tanpa membutuhkan banyak pikiran, karena pikiran atau “otak” ada pada Joh Fredersen, sang penguasa kota yang mengatur segalanya tanpa berkeringat sedikitpun. Sekali mereka diberi kebebasan, maka mereka akan mengikuti hasrat rendah yang tak bertanggungjawab. Tercium bau fasisme pada penempatan kelas pekerja yang membutuhkan “petunjuk” seperti ini.

Sementara itu Joh Fredersen gelisah. Ia curiga pada sikap anaknya, lantas memanggil orang kepercayaannya, the slim man, untuk mengikuti kemanapun Freder pergi untuk mencari tahu apa yang akan dilakukan oleh anaknya itu. Ia juga penasaran pada peta bawah tanah yang ditemukan oleh Grot dan memutuskan untuk mendatangi Rotwang, seorang ilmuwan gila teman lamanya. Bersama Rotwang – yang jejaknya bisa terlacak pada Mabuse (film Lang yang lain) dan Dr. Strangelove (Stanley Kubrick) – Joh tahu bahwa peta itu adalah sebuah peta katakombe. Mereka pun menyusuri bawah tanah Metropolis untuk menemukan Maria yang sedang berpidato didengarkan oleh para pekerja.

Melihat Maria yang dianggap berbahaya itu, Rotwang mengusulkan pemecahan kepada Joh: manusia mesin alias robot yang bisa dikendalikan. Inilah gambaran ambisi ketuhanan orang-orang seperti Joh yang dibantu oleh Rotwang yang memenuhi literatur sejak Frankenstein karya Mary Shelley. Rotwang menciptakan robot perempuan itu mirip dengan Hel, istri Joh yang menjadi obyek cinta Joh dan ternyata juga dicintai oleh Rotwang sendiri.

Rotwang berhasil menculik Maria dan mengubah robot itu  menjadi wujud Maria. Joh senang dan meminta Maria mengacaukan para pekerja, tetaapi diam-diam Rotwang punya niat lain. Ditugaskannya Maria palsu itu menghasut para pekerja dan menghancurkan Metropolis. Maria yang selama ini dipercaya oleh para pekerja dan menjadi semacam mentor mereka, segera digantikan oleh sang robot. Sang robot kemudian mengubah khotbah yang selama ini disampaikan oleh Maria. Ia menekankan pada eksploitasi yang dilakukan oleh Joh dan orang-orang kaya yang tinggal di permukaan tanah, terutama di Menara Babel. Kata-kata Maria palsu itu segera disambut oleh para pekerja. Dengan terbakar amarah, mereka berusaha menghancurkan kota dengan lebih dulu menyerang mesin besar metropolis. Freder yang berada di sana bersama Josaphat susah payah menghalangi mereka. Sia-sia, para pekerja terus menjalankan niat mereka menghancurkan Metropolis.

Sementara Maria palsu yang  berhasil menghasut pekerja, kemudian lari menuju distrik Yoshiwara. Di sana, Maria palsu segera menjalankan misinya yang lain: menawarkan kemerosotan moral bagi orang-orang kaya di Metropolis. Maria, metafor Bunda Maria, menjadi Maria si pelacur di distrik Yoshiwara. Ia menjadi obyek seks dan memuat orang kaya di Metropolis menjadi gila oleh hasrat seks mereka.

Para pekerja berkeras untuk menghancurkan Metropolis dan tiba di ruang mesin. Menunggu di situ Grot, mandor yang setia pada Joh. Grot mengingatkan bahwa kota bawah tanah tempat tinggal para pekerja berada di bawah sebuah waduk. Apabila mesin yang mengendalikan Metropolis tak berfungsi, maka kota bawah tanah itu terancam terendam, dan yang akan menjadi korban adalah para pekerja dan keluarga mereka. Namun para pekerja yang sudah gelap mata bergeming. Mereka berkeras untuk menghancurkan Metropolis. Joh menjadi panik sendiri melihat hal ini dan berusaha menemukan Maria agar bisa kembali membujuk para pekerja. Namun Maria yang sudah berhasil mencocok hidung orang kaya di distrik Yoshiwara tak berada di bawah kendalinya. Rotwanglah yang memegang kendali dan sejak awal ia tak berniat memberi kekuasaan ini pada Joh.

Segala sesuatu jadi tak terkendali. Para pekerja yang ngotot terus berkeras menghancurkan kota. Mesin besar pengendali Metropolis sudah rusak dan air mulai memasuki kota bawah tanah. Para pekerja panik melihat itu dan segera teringat anak dan istri mereka yang mungkin tak bisa menyelamatkan diri. Di sinilah Freder dan Josaphat kemudian bekerja mati-matian menyelematkan mereka dengan segala daya upaya. Para pekerja tersadar dan segera berusaha membantu usaha penyelamatan. Segera mereka teringat penghasut yang membuat mereka gelap mata: Maria. Maria yang asli sempat melarikan diri dari tahanan Rotwang dan sedang dikejar kembali oleh Rotwang yang ingin memiliki Maria. Sementara itu Maria palsu sedang dalam perjalanan dari distrik Yoshiwara digendong oleh para orang kaya yang terbuai oleh daya tarik seksualnya. Kedua rombongan bertemu.

Maria palsu, sang robot, segera menjadi korban. Freder dan Maria asli yang berhasil kabur dari Rotwang yang terjatuh ketika sedang mengejar Maria. Rotwang mati. Para pekerja sadar ketika melihat anak-anak mereka diselamatkan oleh Freder, demikian pula Joh. Mereka kemudian berpikir bahwa mereka bergantung satu sama lain, dengan Freder sebagai faktor penting yang akan menghubungkan mereka. Babak baru Metropolis pun dimulai.

4)

Still foto Metropolis di tengah jalanMetropolis jelas mengambil gagasan konflik kelas kaum Marxis sebagai cara pandang terhadap masyarakat. Film ini melihat masyarakat sebagai kelas yang bertentangan dimana para pekerja berada dalam posisi tereksploitasi. Namun jelas sekali bahwa film ini menghindar dari revolusi sosial sebagai buah yang otomatis lahir dari pohon konflik kelas itu.  Alih-alih, Metropolis menggambarkan konflik kelas itu dengan naïf, bahwa di satu sisi kelas pekerja adalah “tangan” yang membuat kota itu bergerak, sementara penguasa seperti Joh adalah “otak” yang mengendalikan tangan itu. Untuk memecahkan problem konflik itu, perlu adanya “hati” yang diwakili oleh Freder, seorang muda percaya diri dan dipenuhi oleh niat baik.

Dalam wawancara dengan Peter Bogdanovich, Fritz Lang mengaku bahwa ide itu bukan berasal darinya melainkan dari istrinya, Thea von Habrou yang juga menulis film ini. Ia merasa bahwa ketika ia menulis dan menyutradarai Metropolis, Lang menyatakan dirinya adalah seorang yang naïf dan tak sadar politik. Gagasan ini memang terasa naïf, bahkan terasa berbau fasisme terutama dalam usulan adanya orang muda yang “memandu” baik kelas pekerja maupun orang kaya dengan hati.

Metropolis memiliki banyak kesejajaran dengan gagasan yang diusung oleh The Third Reich. Selain keunggulan extravaganza dan ambisi besar dalam produksinya, usulan untuk memberi “hati” sebagai penyuluh bagi “tangan” dan “otak” sejalan dengan peran propaganda partai Nazi Jerman pasca Perang Dunia Pertama dan malaise ekonomi yang mengiringinya. Baik kelas pekerja maupun kaum elit Jerman sama-sama menghindar dari ketidakpastian dan konflik serta memilih untuk mencari kemapanan lewat ambisi kejayaan masa lalu serta adanya penyuluh jalan yang akan menuntun mereka menuju ke sana.

Versi lengkap Metropolis menegaskan hal itu, lengkap dengan kompleksitas persoalannya. Pada bagian adegan Distrik Yoshiwara yang dibuang di versi pendek, kemerosotan moral kelas pekerja tampak tak terlalu penting. Pada versi lengkap ini, posisi Pekerja 11811 tampak menjadi wakil dari ketidakmampuan mereka mengendalikan diri ketika godaan datang – serupa belaka dengan kaum kaya dan bangsawan. Perbedaan kelas tidak menyebabkan adanya perbedaan dalam potensi terjebak pada kemerosotan moral bagi kedua kelas itu dan hal ini menjadi faktor penting bagi keberadaan “hati” yang mampu membuat kedua kelas yang bertentangan itu tak menghancurkan diri mereka sendiri.

Demikian pula tambahan adegan pengejaran Maria oleh para pekerja di penghujung film. Penggambaran ini mewakili karakter pekerja itu mudah tertipu ketika mereka menjadi massa yang gelap mata. Pada versi pendek, adegan pengejaran diedit sedemikian rupa sehingga para pekerja langsung mengejar Maria palsu dan tak ada transisi yang menggambarkan bahwa massa yang gelap mata bisa demikian mudah termanipulasi dan tak bisa membedakan Maria asli yang sederhana dan Maria palsu yang glamor. Simplifikasi pada adegan ini memang lebih efektif dalam penyelesaian konflik pada cerita tetapi menghilangkan karakter massa yang mudah tertipu yang menegaskan pentingnya panduan bagi mereka dalam bertindak, sebagaimana gagasan yang secara konsisten terus dibawa oleh film ini.

5)

Bagi saya, Metropolis tetap punya kelemahan di balik ambisi sinematisnya yang jumawa. Gagasannya kelewat naif dan bisa jadi mewakili semangat Jerman yang sedang berusaha keluar dari kemerosotan mereka pada dekade 1920-an.

Namun terobosan artisik Metropolis tetap membuatnya menjadi salah satu film paling penting dalam sejarah film dunia, bahkan mungkin sejarah seni dunia. Selain pada pembangunan arsitektur modern yang visioner dan suasana dystopian-nya, Metropolis juga menjadi sarana penampilan akting paling penting  pada film Jerman yang dilandasi oleh gerakan ekspresionisme pada seni mereka. Saya terkesan sekali akan hal ini dan ingin membahas sedikit akting aliran ini.

Berbeda dengan method acting yang kita kenal lewat film-film Hollywood belakangan ini, akting ekspresionis tidak berambisi mengejar sifat alamiah perilaku. Akting ekspresionis mengutamakan pada gesture yang lebar, bahkan terkadang berlebihan, untuk menyampaikan emosi dan gagasan. Manipulasi emosi tidak menjadi tujuan utama akting jenis ini, sehingga penghayatan akting tidak selalu berarti menjadi orang lain. Karakter adalah sarana pembawa gagasan dan terkadang bersifat dekoratif belaka terhadap keseluruhan bangunan narasi film. Maka akting bisa membawa gagasan atau mood ketimbang semata untuk menggambarkan kondisi psikologis karakter dan identifikasi penonton terhadap konfisi tersebut.

Lihat misalnya lekagetan Freder dan Maria yang diwujudkan dalam bentuk memegang kedua pipi hingga pelipis, mirip dengan imaji yang ada pada lukisan Scream karya Edgar Moench. Gerakan tubuh, tolehan dan sebagainya dilakukan dengan gerakan patah untuk menunjukkan perubahan drastis dan reaksi eksterior ketimbang kondisi psikologis yang  bersifat interior. Hal ini menunjukkan orientasi sosial lebih ditekankan ketimbang memperhatikan perasaan dan aspirasi individual yang ditandai dengan model shot yang diiringi reaction shot terhadap close up wajah yang populer di Amerika.

Maka menonton versi lengkap Metropolis di layar lebar di Jeonju mengingatkan saya akan ambisi-ambisi sinematis yang luar biasa, yang percaya pada sinema sebagai sebuah pertunjukan extravaganza yang mencapai batas imajinasi manusia. Sekalipun ada sedikit gidik ngeri membayangkan ambisi macam itu tak selalu bermakna baik bagi kemanusiaan, Metropolis mengingatkan akan peluang yang bisa dibawa oleh sinema.

Eric Sasono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s