Bakat Baru Film Korea

Catatan dari 11th Jeonju International Film Festival 2010 (4)

Menjadi juri bagi film Korea Selatan adalah sebuah kehormatan besar. Selama ini bagi banyak orang Indonesia terutama bagi para pekerja film, industri film Korea Selatan dipenuhi oleh mitos keberhasilan. Kritikus senior Arya Gunawan pernah menulis tentang demonstran yang melepas ular ke bioskop yang sedang memutar film Hollywood agar para penonton tak lagi menonton film Hollywood dan beralih ke film Korea. Di rapat-rapat Masyarakat Film Indonesia tahun 2007 lalu, berkali-kali nama KOFIC, komisi film Korea Selatan, disebut dengan nadawishful thinking agar pemerintah kita punya visi membentuk komisi film semacam itu. PemredRumah Film, Krisnadi Yuliawan, menulis tentang drama Korea yang menginvasi Jepang. Saya berhadapan dengan mitos-mitos itu di Jeonju, di sebuah festival kecil yang memberi tempat besar pada semangat independen dan keleluasaan sinematik.

Tentu saja menilai mitos-mitos itu dari delapan film yang saya nilai di seksi kompetisi JIFF bukan merupakan sesuatu yang adil, baik terhadap industri film Korea Selatan sendiri, maupun bagi film-film yang saya tonton. Delapan film yang saya tonton jelas tak mungkin bisa mengungkap apa yang sedang terjadi dengan industri film Korea Selatan. Namun dari kedelapan film ini, saya berharap bisa ikut menyaksikan bakat-bakat baru sedang merintis jalan mereka menuju legenda-legenda baru. Mungkin saja di antara mereka akan ada yang menjadi pengganti dari Park Chan-Wook atau Bong Joon-Ho atau Lee Chang-Dong atau Hong Sang-Soo. Cepat atau lambat mereka akan berperan juga di perfilman Korea.

Mereka adalah sutradara baru. Film-film yang dikompetisikan adalah film pertama atau kedua dari para sutradara tersebut. Umumnya mereka membuat film ini dengan cara bergerilya atau semi bergerilya, dengan uang sendiri dan pendanaan yang agak susah payah. Rekan saya sesama juri, Cho Yung-Kag, bisa dibilang merupakan patron dari para pembuat film independen menyatakan hal itu kepada saya. Saya sempat diajaknya ke pesta para pembuat film independen. Pesta ini diberi nama serupa dengan minuman tradisional Korea asal Jeonju,Mak-goel-liMak-goel-li tak seterkenal minuman Korea lainnya, soju, yang sering muncul di film-film Park Chan-Wook. Namun bagi para pembuat film independen, mak-goel-li – minuman asal Jeonju ini – lebih mencerminkan posisi underdog mereka sekaligus sikap mereka yang lebih genuine ketimbang soju. Pesta ini terkenal di kalangan penyelenggara festival. Eun-Song, programmer JIFF yang mengundang saya – kaget bahwa saya diundang ke mak-goel-li party karena ia saja belum pernah datang ke pesta terkenal itu.

Sayang sekali nyaris tak ada orang berbahasa Inggris di pesta itu sehingga saya tak mengetahui apa yang sedang terjadi dengan sinema Korea, terutama di kalangan pembuat film independennya. Namun saya sempat melihat semacam upacara toast yang dimulai oleh Cho Yung-Kag, sang direktur Seoul Independent Film Festival ini. Young-Kag naik ke atas kursi dan membuat serangkaian pengumuman. Sedikit-sedikit saya bisa menangkap bahwa ia sedang mengumumkan apa yang sedang terjadi dengan para pembuat film independen Korea. Dari sekitar 50-an hadirin pesta di rumah makan sederhana di pinggiran kota Jeonju ini, suasana meriah setiap kali Young-Kag menyebutkan bahwa si anu berhasil menembus festival ini atau si ani sedang mengerjakan produksi itu. Suasana komunitas ini benar-benar terasa, bahkan saya mencium sedikit bau militansi di sini. Sekali lagi, sayang sekali tak ada yang menerjemahkan apa yang sedang dibicarakan Young-Kag.

Kembali kepada film-film yang dikompetisikan, saya dan anggota juri lain berkerut kening melihat kedelapan film ini. Mereka begitu berbeda satu sama lain. Beberapa film nyata-nyata merupakan film yang serupa belaka dengan film-film mainstream Korea Selatan. Satu film berupa film dokumenter yang mirip dokumenter yang dibuat oleh aktivis buruh; satu dokumenter eksperimental; satu film fiksi eksperimental yang terinspirasi cerita Kafka,Metamorphosis, yang tokohnya berubah menjadi serangga raksasa; dan satu film gay yang mengambil bentuk home video yang direkam oleh salah satu tokoh dalam film itu.

Film-film diseleksi oleh para programmer JIFF dari sekitar 60 film Korea yang mendaftar. Bagi saya pilihan para programmer ini berani dan menantang bagi para juri. Dengan ragam pilihan yang seluas ini, kami berhadapan dengan film yang bekerja pada tingkat berbeda-beda pada penonton. Ragam tema dan elemen formalistiknya membuat kami harus kembali kepada hal paling mendasar dari filmmaking: apakah teknik yang mereka gunakan berhasil atau tidak. Maka timbul dalam benak saya: kompetisi di festival ini bukan lomba. Sebuah lomba menyaratkan adanya “kesamaan kelas” dalam film yang dilombakan, tetapi karena kelas yang demikian berbeda antar film, maka kami para juri harus kembali menjadi penonton: film mana yang paling berhasil menggerakkan kami. Bagi saya, inilah visi yang utuh tentang sinema dari JIFF.

Sekalipun demikian, saya tetap terkejut dengan pilihan beberapa pembuat film ini dengan kecenderungan mereka pada melodrama. The Boy from Ipanema merupakan sebuah film melodrama yang bersikap sentimental terhadap cinta remaja. Animasi di film ini memang baik, tapi secara keseluruhan tema cinta remaja dalam film ini terasa naïf dan lugu.Themselves juga mengeksplorasi drama yang menguras emosi berlebihan sekaligus memanfaatkan stereotip untuk menghadirkan komedi berupa perempuan bertubuh gemuk dan anak kecil berwajah polos. She Came From berawal dengan menarik dari kisah seorang penulis yang mengalami writer’s block, sampai kemudian berubah menjadi melodrama tentang cinta sang penulis pada keluarga dan ide kematian sebagai deux-ex-machina perubah karakter. Yang mengejutkan adalah REC, film gay yang dibuat dengan model home video. Pembukaan film ini cukup menjanjikan sebagai landasan bagi kisah yang penuh resiko (high-stake), tetapi akhir film berubah menjadi melodrama yang bahkan paling klise dibandingkan yang lain.

Klise berhasil dihindari oleh Passerby #3, sebuah kisah semi otobiografi dari seorang sutradara sekaligus ibu yang ingin sekali membuat film. Dengan gaya komedi, film ini berhasil menertawakan dengan halus industri film Korea Selatan – dan sang filmmaker sendiri – sekaligus menceritakan drama keluarga yang matang. Film ini akhirnya yang kami pilih sebagai pemenang dan meraih hadiah terbesar di festival ini. Sang filmmaker Sung Sun-Won adalah seorang perempuan sederhana yang berjuang untuk menjadi sutradara. Film ini berhasil dibuat dengan uang tabungannya sendiri selama ia bekerja sebagai penulis. “Ibu saya meminta saya untuk berhenti membuat film dan melupakan profesi sutradara,” katanya pada pidato penerimaan hadiah, “tapi sesudah kemenangan ini, ia pasti akan menyuruh saya membuat film lagi,” katanya disambut tawa para hadirin. Tentu saja karena ia berhasil membawa uang 10 juta won dari Jeonju.

Film dokumenter yang dikompetisikan cukup menarik. Before the Next Full Moon bercerita tentang bentrokan yang terjadi pada saat pemogokan buruh pabrik mobil Ssangyong pada saat terjadi pengambil alihan oleh Shanghai Motors. Sang filmmaker berhasil menyusup ke dalam pabrik yang dikuasai buruh dan dikurung oleh polisi dari luar. Dokumenter ini berhasil dengan sangat intens dan emosional menangkap kecemasan dan drama pemogokan itu. Film ini berhasil meraih audience award. Wajar saja, mengingat dedikasi dan semangat pembuat film ini terasa jauh melebihi batas-batas layar.

Sedangkan karya dokumenter eksperimental, Kimu: The Strange Dance, berkisah seputar perubahan tata kota Seoul direkam dari sudut pandang sebuah gedung yang pernah menjadi markas Komando Pertahanan Nasional Korea di era darurat milier. Dengan undertone politik yang kuat, Kimu bercerita pula tentang kenangan dan sejarah yang terhapus oleh perubahan. Sayang sekali bahwa konteks perubahan itu sulit dimengerti oleh orang asing seperti saya. Perlu penjelasan terlalu banyak terhadap konteks untuk bisa mengerti makna perubahan yang dimaksudkan oleh film ini.

Sesudah menonton film-film ini, saya tak merasa mitos yang saya mengelilingi saya seputar perfilman Korea Selatan tentulah belum hilang. Namun saya melihat bahwa para sutradara muda Korea Selatan sama saja dengan para sutradara di negara lain. Mereka harus berjuang untuk mendapat tempat utama di atas panggung, dan tempat itu tentu tidak banyak. Beberapa mencoba peruntungan mereka dengan mendekati tema dan gaya mainstream, agar lebih mudah masuk ke dalam industri yang sudah mapan, sebagian lagi mencoba untuk menyajikan cara tutur yang berbeda. Tentu saja menarik sekali menyaksikan bahwa mereka terus mencoba dan percobaan itu diberi kesempatan di Jeonju.

Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil darinya dan rasanya tak menolak jika diminta mengulanginya lagi tahun depan.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s