Fokus dan Revolusi

Catatan dari 11th Jeonju International Film Festival 2010 (3)

Saya tak sempat menonton banyak film di seksi fokus bagi para filmmaker yang diputar di sini. Saya hanya sempat menonton film-film karya Kim Don-Won, sutradara film dokumenter Korea yang dianggap sebagai pelopor sinema dokumenter independen Korea. Karya Dong-Won yang sempat saya tonton adalah Repatriation (2003) serta Jongno-Winter (2005) yang digabung dengan 63 Years On (2008).

Repatriation adalah sebuah kisah panjang tentang proses repatriasi tahanan politik dari Korea Selatan ke Korea Utara. Kekuatan utama Kim Dong-Won adalah kemampuannya untuk menceritakan kompleksitas subyeknya. Persoalan repatriasi dan gagasan reunifikasi Korea yang rumit dan berlatarbelakang panjang itu bisa ia kisahkan dengan sangat jelas dan mudah dimengerti. Ia memulai cerita dari kisah dua orang bekas mata-mata Korea utara yang ditangkap pada Perang Korea. Mereka sudah selesai menjalani hukuman mereka (sekitar 30-an tahun) dan dikembalikan ke masyarakat. Tapi karena tak mungkin dikembalikan ke Korea Utara begitu saja, mereka kemudian ditampung di sebuah rumah di desa tempat Dong-Won tinggal. Salah seorang bekas mata-mata itu, Pak Cho, adalah seorang sederhana yang lebih suka duduk menyediri di belakang dalam pertemuan warga. Pagi-pagi ia sudah kerja membersihkan lingkungan. Ia disuka oleh warga kampung. Hubungan terbangun sedemikian rupa antara Dong-Won dengan Pak Cho.

Dari kisah dua orang mata-mata ini, cerita Dong-Won kemudian meluas. Para bekas tahanan dari Korea Utara itu ternyata mengadakan pertemuan rutin. Dong-Won mulai terlibat di dalamnya dan mulai merekam mereka, termasuk ketika mereka menyanyikan lagu-lagu komunis Korea Utara. Tak ada yang berubah dari mereka, bahkan Dong-Won tak menutupi sedikit kekesalannya melihat mereka masih keukeuh dengan ideologi komunisme mereka. Dengan semakin berkembangnya cerita, kompleksitas proses repatriasi itu terurai sedikit demi sedikit. Dong-Won tetap mampu mempertahankan sifat personal film bergaya dokumenter interaktif ini (pembuat film diperlihatkan berinteraksi dengan subyeknya) sambil mengurai benang kusut persoalan ideologi, harga diri dan masa lalu kedua bangsa Korea. Uraian terhadap kompleksitas inilah keunggulan utama film ini.

Namun kelemahannya, secara formal, film dokumenter Dong-Won terasa wagu di sana-sini. Di beberapa bagian, Dong-Won seperti memaksakan interaksinya dengan subyek di film ini. Beberapa shot juga terkesan sekadarnya, terasa sekali bahwa aspek politis film dokumenter ini mendominasi pembuatannya. Namun kelemahan pada elemen formal ini tak menyurutkan rasa suka saya pada Repatriation. Apalagi posisi personal Dong-Won yang simpatik dan rendah hati terhadap subyek yang difilmkannya membuat karya ini memiliki sentuhan personal yang dalam.

Karya Dong-Won selanjutnya, Jongno-Winter adalah sebuah karya yang didanai oleh Komisi Hak Asasi Manusia Korea Selatan. Kisahnya adalah tentang seorang buruh Cina-Korea yang mati di tepi jalan Jongno di kota Seoul di sebuah musim dingin. Sang buruh mati kelaparan dan gajinya yang berjumlah total 10 juta won tak pernah dibayarkan. Dong-Won menyusur ulang jalan Jongno dan menjadikan kamera sebagai mata sang buruh, sambil mengungkapkan persoalan lewat berbagai wawancara dengan banyak pihak tentang peristiwa itu. Lebih dari sekadar kisah mengenai perlindungan terhadap buruh di Korea yang terus menjadi persoalan sampai sekarang, film ini juga masuk ke latar belakang orang-orang Cina-Korea yang terus menjadi watga negara kelas dua di negeri mereka sendiri akibat perseteruan sejarah Korea dengan Cina. Persoalan bahasa dan perlakuan yang tidak sopan terhadap buruh-buruh itu juga diperlihatkan punya latar belakang kultural yang tidak sederhana dan berlapis.

Lagi-lagi kompleksitas masalah terdadar dengan sempurna. Kali ini shot Dong-Won bahkan lebih terukur ketimbang pada Repatriation. Anehnya, ia malah jadi kehilangan sentuhan pribadinya dan Jongno-Winter menjadi agak didaktik. Tak heran karena film ini memang ditujukan sebagai materi kampanye.

Lebih didaktik lagi, bahkan agak propagandis, adalah 63 Years On yang mengungkapkan mengenai nasib wanita budak seks di berbagai negara Asia selama pendudukan Jepang pada periode Perang Pasifik. Dong-Won merekam kesaksian empat orang perempuan: satu di Korea, dua orang di Filipina dan seorang perempuan Kaukasian yang kini tinggal di Australia. Dengan mengikuti penuturan mereka, Dong-Won mengajak penontonnya memasuki suasana muram tragedi kejahatan Perang Jepang yang hingga kini belum pernah diakui secara resmi. Ia kemudian beranjak dari kisah personal itu dengan meminta komentar dari berbagai sejarawan dan ahli untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh. Film berakhir dengan luapan emosi berupa kemarahan terhadap fakta didiamkannya persoalan pemerkosaan sistematis para perempuan dalam Perang Pasifik itu hingga kini. Sekalipun terasa didatik, 63 Years On dari Dong-Won ini bagi saya, jauh lebih baik ketimbang cara tutur anekdotal Michael Moore yang sejak awal memang dipenuhi bias dan kesan arogan.

Selain menonton retrospeksi Kim Dong-Won, saya menyempatkan diri menonton film dalam seksi homage yang tahun ini ditujukan untuk Miklos Jancso, pembuat film asal Hungaria. Miklos Jancso di buku acara JIFF ditulis sebagai “seniman yang melengkapi puitika karya-karya tentang revolusi”. Saya melihat filmnya, The Round Up (1965), dan setuju dengan pandangan yang tertulis di buku program itu.

The Round Up – yang oleh kritikus Derek Malcolm dianggap sebagai salah satu dari 100 masterpiece film dunia sepanjang masa – berkisah tentang Hungaria di bawah pendudukan Austria di abad kesembilanbelas. Gubernur yang baru ditunjuk dari Austria, melakukan pembersihan terhadap pemberontakan dan mereka mengumpulkan seluruh orang yang dicurigai di dalam satu benteng militer. Mereka diperiksa dan diinterogasi untuk mencari pemimpin pemberontakan, Sandor Rozsa. Namun para pejuang Hungaria ini mencoba mempertahankan harga diri mereka dengan tak memberi tahu orang yang dicari. Sampai akhirnya salah satu dari mereka membuka mulut. Seluruh film berkisah mengenai proses pengumpulan para pejuang Hungaria dan interogasi mereka oleh tentara Austria.

Jancso memang benar-benar bercerita tentang proses round-up dengan memaparkan cerita dari tengah-tengah. Ia tak memberi latar belakang peristiwa dan mengajak penonton langsung melihat pada tahanan yang sedang digelandang masuk ke dalam sebuah benteng. Ketegangan terbangun dengan baik karena Jancso mengeksplorasi rasa saling curiga dan kebencian yang menghubungkan antar pejuang. Dengan setting lokasi berupa dinding benteng tebal tak berjendela di tengah padang rumput Hungaria yang luas, terasa bahwa kekerasan politik bernama penjajahan punya puitikanya sendiri.

Puitika perlawanan dan revolusi memang menjadi salah satu seksi dalam JIFF 2010. Judul resmi seksi itu adalah Poetic of Resistance and Revolution. Selain film-film Jancso yang bisa digolongkan ke dalam seksi ini, ada film-film lain seperti Emitai (Ousmane Sembene), Antonio Des Mortes (Glauber Rocha, salah seorang pelopor Cinema Nuovo Brazil), Pre-Partisan(Tsuchimoto Noriaki) hingga film October (Sergei Eisenstein) yang terkenal itu. Semuanya menggambarkan proses perlawanan massa terhadap penguasa, bahkan – October misalnya – menggambarkan massa dan bukan individu sebagai karakter utama film.

Seksi khusus ini memang sengaja dibuat oleh JIFF untuk secara tidak resmi memperingati dua momen penting dalam sejarah Korea yang berkaitan dengan perlawanan dan revolusi yaitu gerakan rakyat di tahun 1960 serta pemberlakuan darurat militer di tahun 1980. Peringatan 50 tahun dan 30 tahun kedua peristiwa itu menjadi dasar dibuatnya program tentang perlawanan dan revolusi ini. Namun karena bau “kiri” dari seksi ini, tidak ada pengumuman resmi bahwa seksi ini dengan sengaja diniatkan untuk memperingati dua momen bersejarah itu.

Bagi saya, di sinilah JIFF benar-benar punya visi yang utuh tentang sinema. Film-film berbau “kiri” ini bahkan sebenarnya agak propagandis – lihat saja October yang memang dibuat untuk merayakan Revolusi Oktober kaum Bolshevik di Rusia tahun 1917. Namun dengan menyajikan aspek “puitis” dari film-film “bertendens” politik tinggi ini, JIFF justru menegaskan bahwa estetika sinema tidak tunduk begitu saja pada kepentingan politis dan sinema tetap punya daya hidupnya yang berhasil mengatasi kepentingan politiknya sendiri. Mungkin hal ini terjadi karena film-film ini ditonton di luar konteks waktunya. Namun bukankah justru itumembuktikan bahwa karya sinema yang baik mampu melewati batasan waktu dan tendensnya sendiri?

Saya akan lanjutkan cerita tentang visi mengenai sinema ini dalam cerita saya tentang film-film di seksi kompetisi film panjang Korea Selatan dimana saya menjadi juri.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s