Cinema Filipina tahun 2009

Saya diundang oleh festival film internasional Cinemanila, untuk menjadi juri. Berangkatlah saya 5 malam ke Manila. Di sana, saya berkesempatan menyaksikan dari dekat sinema Filipina yang sedang menjadi pusat perhatian dunia itu. Inilah sedikit catatan dari sana.

—————————————————-

Sinema Filipina sedang memasuki sebuah tahap serupa dengan sinema Iran di pertengahan 1990-an, sinema Korea atau sinema Cina di akhir 1990-an. mereka sedang menajdi pusat perhatian dunia sesudah kemenangan-kemenangan di festival-festival penting. Deretan nama baru yang eksotis menarik perhatian para programmer dari festival film di seluruh dunia. Semua berebut ingin memberi tempat kepada pembuat film Filipina, terutama nama-nama baru.

Tahun 2009 memang milik mereka. Brillante Mendoza baru saja memenangkan gelar sutradara terbaik di festival film Cannes tahun ini. Nama yang dikalahkannya tak main-main. Ada Quentin Tarantino (Inglorious Basterds), Ang Lee (Taking Woodstock) dan Pedro Almodovar (Broken Embraces). Dengan film Kinatay (Execution of P), sebuah cerita tentang polisi yang korup dan mutilasi terhadap seorang pelacur, Brillante mencatat prestasi paling penting yang pernah dicatat oleh pembuat film Asia Tenggara. Maka Filipina sedang sangat berbangga. Dalam pemutaran film di Cinemanila, mereka membuat semacam bumper pendek (berbahasa Tagalog) yang membanggakan prestasi Brillante yang telah “memenggal” nama-nama besar itu.

Di dekade 1970-an Filipina pernah punya sineas yang bicara di dunia internasional. Nama seperti Lino Brocka, Ishmail Bernal dan Kidlat Takhimi menjadi pembicaraan kritikus di Cannes dan Berlinale. Karya-karya mereka bahkan ikut membantu terbentuknya diskusi mengenai “third world cinema” yang dimulai dari film-film Amerika Latin. Social commentaryyang kuat dan sikap politik yang tegas terhadap kolonialisme menjadi tema film-film para “bapak sinema independen Filipina” ini.

Namun generasi ini hilang dan tak berlanjut di dekade selanjutnya. Direktur Philippine Independent Filmmakers Multi-Purpose Cooperative (IFC), Clodualdo Del Mundo Jr., menulis di bulletin mereka bahwa generasi post-Brocka hanya akan menjadi generasi catatan kaki saja karena minimnya prestasi mereka. Sekalipun sebenarnya ada Raymond Red, orang Filipina pertama yang membawa pulang piala dari Cannes dengan film pendeknya, Anino. Namun Red kerap dmasukkan ke dalam satu generasi dengan Brillante Mendoza dan kawan-kawan ini. Maka kedatangan nama-nama baru ini telah mengembalikan sinema Filipina seperti era Brocka-Bernal dan kawan-kawan.

Dengan begini, saya ke Manila tiba di tengah perayaan terhadap sinema Filipina. Dalam pidato penutupan Cinemanila, direktur dan pendiri Cinemanila, Amable “Tikoy” Aguluz VI berkata dengan lantang bahwa masa depan sinema dunia adalah sinema Filipina. Tikoy yang optimis ini tentu berlebihan. Tapi semangat itu memang sedang terasa sekali di Filipina saat ini.

Karena selain Dante (nama akrab Brillante) memang ada beberapa nama lain. Misalnya Raya Martin. Pembuat film muda ini baru membuat 2 film panjang, tapi ia begitu diperhitungkan. Filmnya, Independencia, diputar di seksi kompetisi utama Cinemanila bersanding dengan film-film seperti Mammoth (Lukas Moodyson, Swedia), Ricky (Francois Ozon, Perancis),Hunger (Steve Martin, Inggris), Tulpan (Sergey Dvortsevoy, Kazakhstan), Milk of Sorrow(Claudia Llosa, Peru). Film terakhir ini mendapat Golden Bear, penghargaan tertinggi di Berlinale, tahun 2009.

Nama-nama lain yang juga sudah beredar di lingkaran festival film dunia adalah Lav Diaz, Khavn DeLa Cruz, John Torres, Adolfo Alix Jr., Sherad Sanchez. Lav Diaz – saya gemar berat pada filmnya Death in The Land of Encantos – terkenal membuat film-film dengan durasi sampai 6 atau 9 jam. Film-filmnya diputar di Berlin atau Rotterdam. Khavn terkenal sangat produktif. Ia sudah membuat film pendek sebanyak 70-an judul, dan beredar di berbagai festival di Eropa. John Torres belum seterkenal dua nama ini, tapi ia juga sudah mulai diperhitungkan di Rotterdam. Adolfo Alix dan Sherad Sanchez juga membawa film mereka keliling ke berbagai festival di Eropa.

Generasi baru – yang disebut generasi kelima sinema Filipina ini – memang sedang lahir dan berkembang. Belum lagi nama-nama di atas ini masuk ke lingkaran utama dunia, tiba-tiba muncul seorang anak muda berumur 21 tahun: Pepe Diokno. Film pertamanya, Engkwentro, diputar di Festival Film Venesia tahun 2009 ini dan membawa pulang piala Horizon Award dan Luigi De Laurentis Award dari festival itu. Award ini ditujukan bagi sutradara debutan atau sophomore. Maka bergembiralah dunia film Filipina tahun 2009 dengan rangkaian kemenangan-kemenangan penting ini.

Saya ikut gembira dan senang ikut menjadi saksi. Sampai saya tiba pada screeningEngkwentro. Saya menonton film ini bersama kritikus Thailand, Kong Rithdee, dan produser Salto / SBO Film, Shanty Harmayn. Kami duduk melihat bakat baru Filipina ini menyajikan kisah dari sebuah kampung kumuh perkotaan dimana kekerasan bersenjata, seks dan obat bius menjadi santapan sehari-hari. Gerak kamera begitu candid tanpa koreksi. Mirip film dokumenter amatiran. Akting sangat natural, dan tampak dilakukan oleh non-aktor. Pengambilan gambar seperti ingin mengejar single shot untuk seluruh film. Tapi di tengah-tengah, ada cut juga. Semua ini membuat saya berpikir lagi: saya pernah melihat tema dan gaya seperti ini.

Tentu saja. Dante pertamakali yang menggunakannya di Slingshot. Jim Libiran menambahi elemen musik rap pada tema dan gaya seperti ini di Tribu (Jim main di Engkwentro sebagai eksekutor, muncul di akhir cerita. Pantas saja ia berpesan kepada saya sebelum menonton film ini: jangan berkedip sedikitpun 5 menit sebelum ending). Lalu apa yang istimewa dariEngkwentro? Bisa jadi ada backdrop politik yang lebih kuat di Engkwentro ketimbang dua pendahulunya itu. Konteks politik ini ditampilkan dengan cerdas dalam bentuk siaran TV dan radio.

Pepe sendiri seorang yang berbakat. Saya sempat melihat potongan pendek karya dokumenternya, Dancing for Discipline, yang mengisahkan seorang sipir penjara yang menggunakan tarian – dan bukan baris berbaris atau senam – sebagai sarana pendisiplinan narapidana di sana.

Namun kemenangan Engkwentro akhirnya menghasilkan diskusi lumayan panjang antara saya, Kong dan Shanty. Kami berpikir bahwa para programmer festival di Eropa ini sedang getol sekali mencari negara baru. Maka ditasbihkanlah Engkwentro menjadi pemenang, padahal film itu – sekalipun baik – sama sekali bukan terobosan. Apakah Venesia saja yang sedang gumunan melihat film seperti ini? Atau mereka merasa kecolongan melihat Dante menang di Cannes dan mereka belum mencatat nama Filipina dalam daftar penting katalog mereka? Kuat sekali bau etnosentrisme di sini, dan jangan-jangan Filipina sedang jadi korban.

Karena anak seperti Pepe – 21 tahun – sekarang sudah tak bisa lagi senang-senang. Apapun yang dibuatnya jadi ditunggu banyak orang. Lihat yang terjadi pada Raya Martin. Filmnya baru 2 dan ia masih boleh berbuat kesalahan, tapi dengan proyek beranggaran dan berambisi besar bernama Independencia, ia sudah menjadi pemain sesungguhnya di lapangan festival ini. Raya termasuk yang berhasil, karena sekarang untuk mendapatkan Independencia saja, Jiffest harus berhubungan dengan distributor Eropa yang meminta screening fee sekitar USD1.000. Serupa belaka dengan film terbaru Dante, Lola (bagus sekali film ini) yang harus ditanyakan ke distributor Match Factory.

Namun bukan soal screening fee yang mengkuatirkan betul, tapi tipisnya beda antara eksplorasi estetika dari negara-negara “baru” dengan pengarahan terhadap estetika itu. Festival tidak hanya menjadi standar estetika, tapi juga menjadi pasar. Film-film Filipina dari nama-nama ini tidak ditonton oleh orang-orang Filipina. John Torres selalu berkata bahwa lebih banyak orang Eropa yang menonton filmnya ketimbang orang Filipina. Film-film Dante tak mendapat deal distribusi di Filipina, dan Dante kadang mengajak tamu-tamunya ke lapak bajakan jika ingin mencari DVD film-film lamanya, karena tak ada perusahaan label DVD yang berminat mengedarkannya. Jadi buat siapa anak-anak muda ini membuat film?

Maka bau pengaruh programmer festival di Eropa terasa sekali, langsung maupun tidak. Mereka seperti “melayani” keinginan para programmer itu dengan gambar-gambar kemiskinan dalam lanskap mereka, tragedi, bencana, kejahatan politik, korupsi dan hal-hal lain yang tak akrab dengan masyarakat Eropa. Maka film Filipina yang disebut sebagai “alternatif” ini dipenuhi oleh gambaran kemiskinan yang akut, kekerasan kasual, kampung kumuh yang akrab, korupsi yang jamak dan sebagainya. Tentu saja rangkaian ini mudah dilihat sebagai sebuah misrepresentasi Filipina. Yang lebih penting: penggambaran-penggambaran ini nyaris menjadi sebuah formula sendiri.

Maka tak ada gambaran kelas menengah dalam sinema Filipina. Gambaran seperti itu tak akan laku di kalangan festival di Eropa. Namun ada alasan yang agak sosiologis juga mengenai hal ini. Struktur masyarakat Filipina memang terbelah: para superkaya di satu ekstrim, dan kelas pekerja yang miskin di esktrim lain. Di tengah-tengah yang seharusnya menjadi penyangga, lebih suka pergi ke Amerika dan menetap di sana. Migrasi Filipina ke Amerika memang luar biasa besarnya dan setiap hari permohonan permintaan visa di Kedutaan Besar Amerika di Manila sebanyak sekitar 3.000 pemohon! Bisa jadi tak semua mereka pergi ke Amerika dan tak semua adalah kelas menengah, tapi inilah aspirasi besar kelas menengah Filipina: menjadi warga Amerika. Dengan demikian kesempatan mereka untuk naik kelas sosial akan lebih besar.

Kekosongan kelas menengah ini membuat film Filipina harus terbelah dengan ekstrim seperti sekarang. Film-film mainstream mereka umumnya medioker dengan pengaruh TV yang besar sekali – terutama bentuk telenovela. Unsur seks dan fantasi sangat besar untuk melayani kelas pekerja. Komedi hanya mengenal satu bentuk yaitu slapstick. Tipikal produk untuk kelas pekerja yang lebih mirip dengan sarana eskapisme. Bisa jadi apa yang terjadi di Filipina bisa dilihat juga di negara Asia lain, terutama Asia Tenggara. Indonesia, Malaysia dan Thailand mengalami hal yang tak jauh berbeda. Namun apa yang terjadi di Filipina adalah sesuatu yang esktrim. Di satu sisi adalah film-film semacam ini dan di sisi lain adalah film semacam Independencia.

Saya membayangkan Independecia. Film ini sangat menarik dengan production value yang luar biasa, karena Raya berhasil merekonstruksi ulang elemen formal film tahun 1920-an. Namun bagi saya film itu terlalu intelektual (Shanty Harmayn kaget mendengar komentar saya ini: “hah?! Buat elo aja terlalu intelektual, buat siapa dong nggak?”. Belakangan saya menemukan orang yang bisa mencerna film ini dengan enak, seorang dosen pengajar matakuliah film Asia di The College of William & Mary, Manila). Film Raya itu memang merupakan kritik terhadap penggambaran kebangsaan, historiografi (dan karenanya) identitas Filipina dengan ungkapan yang penuh referensi non-sinematik yang berasal dari sejarah, pengalaman dan pengetahuan orang Filipina sendiri. Sebuah wisata intelektual yang menarik; tapi jelas sekali ini bukan materi bagi kelas pekerja yang masih sibuk dengan urusan perut dan utang uang tiap bulan untuk bayar kontrakan atau belanja susu anak.

Maka saya akan merasa tak adil jika hanya menyalahkan para programmer festival di Eropa sebagai biang kerok misprepresentasi atau terjadinya schism semacam ini.  Sejak era Lino Brocka dan Kidlat Takhimi hal seperti ini terjadi. Tak banyak pilihan bagi para pembuat film yang punya gagasan-gagasan yang berbeda dengan industri film mainstream. Pasar festival ini bisa jadi memang yang paling masuk akal. Bukan berate mereka tak mencoba, mereka sudah. Film awal Dante, Summer Heat adalah film soft-porn. Demikian pula Adolfo Alix Jr. pernah membuat film semacam itu sebelum beralih ke festival-festival.

Karena ada satu faktor penting yang belum saya bicarakan yang membentuk perfilman Filipina semacam ini. Bisa jadi namanya ideologi, bisa jadi juga sikap politik. Orang Filipina, apalagi filmmakernya, sangat sadar politik. Mereka berbincang politik terus menerus, bahkan beberapa di antaranya di tingkat idelogis. Beberapa mereka bicara soal “social responsibility” para filmmaker. Mereka mengambil contoh Lino Brocka dan Ishmail Bernal untuk soal ini. Mereka inilah yang menjadi pusat gagasan para pembuat film alternatif Filipina, terutama dengan penggambaran kemiskinan, penindasan, korupsi dan sebagainya; serta apa akibat sturktur yang mengekang itu pada individu dan komunitas.

Jika ada tema yang lebih “kelas menengah” seperti tema pencarian identitas dalam konteks nasionalisme dan kolonialisme, maka contoh itu adalah Kidlat Takhimi. Film Kidlat, Perfume Nightmare, menjadi sebuah acuan tentang pencarian identitas dan dialog dunia pertama vs dunia ketiga lewat cara tutur yang mendekati model stream of consciousness. Pengaruh Kidlat tampak sedikit pada Lav Diaz dan Raya Martin. Namun pengaruh terbesar Kidlat adalah pada John Torres yang menggunakan metode serupa dengan Kidlat, yaitu non-scripted recording, diri sendiri menjadi protagonis, elemen naratif yang tak linear dan berpusar pada tema ketimbang progresi plot.

Tradisi intelektual dan tanggungjawab sosial inilah yang masih tercium kuat di film-film alternatif-independen Filipina. Maka saya tak mau menilai ini semua sebagai misrepresentasi Filipina. Jika itu halnya, maka film-film Yasmin Ahmad juga akan terpotretkan sebagai misrepresentasi Malaysia (dan inilah yang membuat terjadinya sikap permusuhan tak resmi pemerintah Malaysia terhadap Yasmin). Ketika jumlahnya mencapai seperti apa yang terjadi di Filipina, tampaknya para programmer festival di Eropa harus memikirkan ulang lagi mengenai apa yang ingin mereka lihat dari film-film “negara baru” ini.

Mungkin fenomena Filipina akan segera berlalu. Para programmer festival ini mungkin akan ke negeri baru, wilayah baru untuk mereka “temukan”. Sementara catatan dari Filipina ini akan masuk ke buku sejarah film, tak sekadar jadi catatan kaki. Tapi keterbelahan itu tetap di sana, dengan jarak yang tetap bertahan lebar. Kecuali jika para pembuat film Filipina mau (dan harus) belajar dari situasi ini dan mencoba keluar darinya. Jika mereka keluar dan menawarkan sesuatu yang lain, akankah pasar bernama festival itu akan menerimanya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s