Festival Buat Penonton?

Catatan dari 11th Jeonju International Film Festival 2010 (1)

Jeonju adalah sebuah kota provinsi utara di Korea Selatan. Penduduknya berjumlah sekitar 630 ribu orang dan kota itu dikenal sebagai kota budaya dan kota makanan. Makanan tradisional Korea yang mungkin paling terkenal sedunia, Bimbimbap, berasal dari kota ini. Di kota ini terdapat pula Hanok Village, sebuah desa yang dipenuhi oleh rumah-rumah dengan atap tradisional khas Korea. Di desa itu tinggal para seniman tradisional Korea yang hidup berdasarkan ketrampilan mereka sebagai seniman yang manggung dimana-mana. Berbagai macam festival dilaksanakan nyaris sepanjang tahun dan menjadi sumber penghidupan bagi penduduk kota Jeonju. Termasuk di antaranya Jeonju International Film Festival, disingkat JIFF, yang tahun ini memasuki edisi kesebelas.

Festival film di Jeonju ini memang tidak seterkenal Pusan International Film Festival, PIFF yang diselenggarakan di kota Busan, yang sejak beberapa tahun terakhir menjadi festival film paling bergengsi di Asia. PIFF telah berhasil menarik nama-nama besar dari industri film dunia sekaligus menjadi pusat showcase industri film Korea Selatan. Skema pendanaan Asia Film Fund mereka juga menjadi gula yang menarik banyak semut. Maka posisi Jeonju agak “merana” dalam hal menarik nama besar ke festival mereka. JIFF harus mencari cara lain agar bisa bersaing dengan Pusan.

Cara lain itu adalah: JIFF memfokuskan festival mereka pada film-film independen dan eksperimental. Mereka memberi tempat pada berbagai terobosan estetis dalam sinema, karya para seniman obskur dan ideosinkretik. Cara tutur yang sama sekali jauh dari konvensional serta nama-nama yang sayup-sayup terdengar, diberi tempat utama di festival ini. Maka JIFF adalah sebuah pesta sinema dalam pengertian yang murni yaitu ketika terobosan estetik dipuja tidak sebagai novelty melainkan sebagai bagian dari ouvre dan cara lain berinteraksi dengan penonton.

Karya-karya yang diputar merupakan karya yang menantang elemen formalistik sinema yang terlalu sering kita terima tanpa tanya. Hal ini terutama ada pada seksi Stranger than Cinema, sebuah seksi yang memang memutar film-film eksperimental. Demikian pula pada JIFF Project yang berpusat pada Jeonju Digital Project (JDP) yang memutar film-film yang didanai (comissioned) oleh festival ini. Tiga orang pembuat film yang sudah punya nama dipilih berdasar seleksi ketat untuk diberi tantangan berkarya dengan teknologi digital. Saya akan melaporkan 3 film yang saya tonton pada Jeonju Digital Project 2010 ini nanti.

Sekalipun memutar film yang bermain-main dengan elemen formal, JIFF dalam publikasi resminya mengaku berpusat pada penonton. Berpusat pada penonton? Saya sempat ragu dalam hati, apakah benar film-film yang sulit-sulit dan tanpa cerita yang ditampilkan di festival ini akan mendatangkan penonton? Namun pertanyaan saya terjawab kontan pada hari pertama. Ketika saya memesan tiket untuk pertunjukan hari itu – dimana tak ada jadwal menonton wajib bagi saya – saya terkejut bahwa tiket untuk pertunjukan hari itu sudah habis. Dan ternyata, beginilah pola yang terus berlaku sepanjang festival. Ternyata festival ini memang dipenuhi terus oleh penonton, termasuk untuk film-film yang “sulit”. Kritikus Thailand yang menjadi juri bersama saya, Kong Rithdee, bercerita bahwa ia sempat menonton film Pedro Costa, Ossos, di teater dengan kapasitas besar, dan nyaris semua bangku terisi! Padahal Ossos adalah sebuah film sulit yang ceritanya mengembara tak tentu arah dan gambar-gambar yang serba muram. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Ketika saya bertanya kepada programmer festival yang mengundang saya, Yoo Eun-Song, saya dapat jawabannya. Menurut Eun-Song, sekitar 50% dari penonton datang dari luar kota Jeonju. Mereka adalah para mahasiswa film yang datang khusus untuk menyaksikan film-film di festival ini. Sudah tentu mereka bersedia menonton film-film yang “sulit-sulit” itu. Tapi, sekalipun mahasiswa film, kata Kong, fenomena ini tetap istimewa. “Karena di Bangkok para mahasiswa film tidak menonton film semacam ini” katanya (saya teringat mahasiswa film di Jakarta). Ternyata saya ketahui dari sumber lain, para mahasiswa ini bisa mendapat kredit apabila mereka membuat laporan bahwa mereka pergi ke festival ini dan menonton di sini. Hal ini bisa jadi merupakan motivasi utama para mahasiswa sekolah film itu. Tahun lalu, menurut Eun-Song, sekitar 50 ribu orang mendatangi festival ini. Angka ini istimewa mengingat jumlah penduduk kota ini sendiri adalah 600 ribuan orang. Tahun ini, mereka berhasil menjual sebanyak 80.269 tiket dengan tingkat okupansi penonton sekitar 83%.

Jeonju bersikukuh dengan program film-film independen dan eksperimenal seperti ini sejak tahun 2004. Ketika mereka memulainya sebagian besar penonton keluar gedung pertunjukan dan festival sepi. Hal ini membawa korban: direktur festival pun dipecat karena dianggap gagal. Namun entah bagaimana para programmer JIFF, yang dipimpin oleh programmer utama mereka Jang Soo-Wan, terus berkeras dengan program seperti ini. Akhirnya JIFF berhasil membangun profil mereka dengan baik. Penonton pun berdatangan khusus ke Jeonju untuk menikmati film-film di JIFF, termasuk para mahasiswa film dari seluruh Korea Selatan. Pelan-pelan JIFF menjadi salah satu festival film terpenting di Korea Selatan disamping PIFF.

Apapun motivasi para penonton ini, Kota Jeonju tahu betul bagaimana cara menyelenggarakan sebuah festival film. Festival itu berpusat di kawasan perbelanjaan mereka, tepatnya di satu ruas jalan yang disebut sebagai cinema street. Jalan ini disebut demikian karena di sinilah terdapat 3 gedung bioksop utama yang terdapat di kota ini yaitu Megabox, CGV dan Jeonju Cinema Town. Di sepanjang jalan dinding-dinding toko dihiasi oleh mural dari adegan film atau tokoh-tokoh terkenal. Gambar dinding Forrest Gump duduk di bangku adalah salah satu tempat favorit berfoto di cinema steet. Di pangkal jalan berdiri patung perunggu kameraman dan perekam suara sedang beraksi.

Pertunjukan film di JIFF diputar di ketiga lokasi ini, disamping satu lokasi lain yaitu di Chonbuk University yang letaknya sekitar 20 menit menggunakan shuttle bus dari cinema street. Saya tak sempat menonton di lokasi itu sehingga tak mengetahui keadaan di sana.

Cinema street ditutup bagi kendaraan bermotor selama festival berlangsung. Lalu lintas dialihkan sehingga para pengunjung festival bisa berjalan kaki dengan tenang dari satu bioskop ke bioskop lain. Toko-toko di sepanjang jalan ikut memasang atribut festival. Di tengah-tengah ruas cinema street, di lokasi yang diberi nama JIFF Visitors Lounge, diletakkan beberapa bangku dan sound system. Di lokasi itu, hampir setiap hari selama festival, para musisi Korea Selatan – kebanyakan musisi independen – ikut serta meramaikan festival dengan membuat konser kecil sambil berjualan CD mereka secara langsung kepada pengunjung. Bahkan beberapa musisi “ngamen” di luar jadwal, terutama pada malam hari sesudah jam 9 malam. Maka selama festival, pengunjung bisa “lompat melompat” dari satu gedung pertunjukan ke gedung lain sambil menonton pertunjukan musik atau layar tancap pada malam hari. Semuanya ada di lokasi yang berdekatan. Sebuah festival yang nyaman, bagai sebuah pesta rakyat dengan penyelenggaraan yang rapi dan efisien.

Sejak hari pertama, saya sudah menyusun jadwal lima hari ke depan. Sebagai juri, saya punya film-film yang wajib saya tonton. Tetapi selain itu, tentu saya harus pandai-pandai memillih film dari sekitar 200-an film yang diputar di festival ini. Tambahan lagi, selama festival berlangsung, panitia menyediakan perpustakaan yang buka dari jam 10 pagi sampai 8 malam bagi para tamu. Hampir semua film yang diputar di festival, serta film-film Korea terbaru, bisa diakses di perpustakaan ini. Penonton dan para tamu festival benar-benar dimanjakan di sini

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s