Siapa Bilang Djenar Monyet?

Siapa yang bilang Djenar Maesa Ayu adalah seekor monyet? Mungkin tak ada, dan itulah soalnya. Bisa jadi pernah ada yang mengatai Djenar monyet dan ia sedang melawannya dengan karya. Saya merasa begitu ketika menonton film Mereka Bilang Saya Monyet (MBSM), yang naskahnya ditulis Djenar bersama Indra Herlambang dan disutradarai Djenar sendiri. Cerita film ini berasal dari cerita pendek Djenar yang berjudul “Lintah” dan “Mereka Bilang Saya Monyet”.

Kisahnya adalah tentang seorang anak bernama Adjeng (Banyu Bening) yang mengalami banyak hal dalam hidupnya. Orangtuanya berpisah dan mereka saling menyalahkan. Sang ibu, yang dipanggil Adjeng Mommy (Henidar Amroe), boro-boro menyayangi. Ia bahkan menganggap anak kecil yang masih sekolah di SD itu tak pantas diperlakukan sebagai manusia. “Sama saja dengan ayahnya,” kata sang ibu, yang kemudian menjuluki sang anak sebagai monyet.

Kebencian Mommy bahkan terasa tak masuk akal. Lihat adegan ini: suatu hari Adjeng memuntahkan sayur yang sudah dimakannya ke dalam toilet duduk. Mommy memergoki. Ia lantas marah pada Adjeng dan meminta anak kecil itu menjelaskan perilakunya. Tentu Adjeng tak bisa menjelaskan. Maka Adjeng pun harus menerima paksa kebenaran Mommy bahwa sayur itu sehat baginya. Tak cukup hanya itu, Adjeng pun dipaksa menelan sayur yang sudah berada di dalam toilet itu.

Benci memang lawan kata dari cinta. Mungkin itu sebabnya keduanya bisa sama tak masuk akalnya. Dan kebencian itulah yang tampak sedang dibagikan oleh Djenar kepada penonton dengan cerita ini.

Penistaan seksual

Tapi kebencian macam itu saja tak cukup. Karena Mommy punya pacar (diperankan oleh Bucek) dan kita tahu sejak awal untuk apa ia ada dalam film semacam ini. Ketika Bucek berada satu frame dengan Adjeng kecil, tak sulit menduga apa yang akan terjadi pada perempuan kecil itu. Bukan hanya komedi dan ilusi kebahagiaan yang mudah ditebak dan cenderung membosankan, tapi juga tragedi dan dunia yang muram seperti ini. Jika ada yang selamat dari konstruksi yang dibangun oleh Djenar, itu adalah metafor lintah yang masuk ke bak mandi yang serta-merta mengubah warna air di dalamnya menjadi merah darah.

Tragedi semacam penistaan seksual seperti yang dialami oleh Adjeng mungkin bukan hal baru. Dalam kehidupan nyata, banyak perempuan-seniman yang mengalami dan mampu mengubah nistaan itu menjadi energi kreatif mereka. Penyair dan prosais Amerika, Maya Angelou, adalah salah satu yang mampu mengubah nistaan seksual itu menjadi kisah yang insipiratif. Bukunya, I Know Why the Caged Bird Sings, dipuji oleh banyak penulis lain dan dianggap menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Maka jika Adjeng dewasa (Titi Sjuman) kemudian merasa perlu berhenti dari menulis buku anak-anak dan mulai mencoba menulis fiksi bagi orang dewasa, ia mungkin bukan sekadar berkeinginan untuk jujur dengan pengalamannya sendiri. Bisa jadi ini adalah sebuah langkah penyembuhan diri yang memang dia perlukan.

Apa langkah penyembuhan itu? Tiba-tiba saya teringat pada Baise Moi (2001), sebuah film Perancis yang arti harfiahnya Fuck Me tapi judul Bahasa Inggrisnya adalah Rape Me –karena tak mungkin arti harfiahnya itu akan diperbolehkan untuk judul sebuah film di negara-negara pengguna Bahasa Inggris. Film itu mengisahkan dua korban tindakan kekerasan seksual yang kemudian berubah menjadi pembenci laki-laki. Mereka menjebak laki-laki dengan seksualitas mereka dan kemudian membunuhi laki-laki yang berhasil mereka jebak karena alasan-alasan kecil.

Film ini dibuat oleh Virginie Despentes dan Coralie. Despentes menulis novel ini dan Coralie, seorang produser film porno Prancis, merasa mendapatkan bahan yang sangat baik buat sebuah cerita dengan pernyataan yang kuat tentang persoalan dominasi seksual laki-laki terhadap perempuan. Namun film ini punya satu kekurangan besar: penceritaan. Film ini lemah sekali dalam penceritaan sehingga tampak seperti perayaan tak sengaja terhadap kebodohan-kebodohan seksual para tokoh di dalamnya.

Tiada ruang bagi karakter

Djenar dalam Mereka Bilang lebih baik ketimbang Baise Moi. Ia lebih lancar dalam bercerita. Kecohan-kecohan kecil juga diselipkan di sana-sini, cukup bisa membuat alur drama terasakan. Namun Mereka Bilang sama-sama punya ketidakmatangan seperti halnya Baise Moi. Penyutradaraan Djenar terasa sangat datar untuk sebuah topik pembicaraan yang sangat membutuhkan sensitivitas.

Ia tampak tak peduli pada perasaan penonton dan tak memberi ruang bagi karakternya untuk menikmati kesendirian tanpa harus terserang oleh orang-orang di sekitarnya. Mommy dan sang pacar memberi nistaan perasaan dan fisik yang tak ada habisnya. Teman di sekolah mengejeknya karena ia menggambar perempuan cantik. Ayahnya mengajak perempuan muda dengan pakaian terbuka yang menyebut dirinya sendiri ‘kakak’ kepada Adjeng. Bahkan Bik Inah (Jajang C. Noer), pembantu ayahnya yang sayang pada Adjeng, selalu mencandai Adjeng di waktu yang salah.

Akibatnya, menonton Mereka Bilang bagaikan menonton sebuah film pendek yang dibuat oleh anak berumur 20-an tahun yang merasa bisa menjelaskan kepada siapa pun bahwa dunia ini tak lebih wangi ketimbang ketiak setan. Pergerakan kamera yang tak macam-macam, editing yang sekadarnya dan tata cahaya yang sederhana dan production value yang ngepas memang berhasil mengantarkan kementahan ungkapan dan fokus pada cerita. Namun kementahan untuk tema sensitif seperti ini nama lainnya adalah ketidakmatangan. Dalam ketidakmatangan demikian, kreator biasanya merasa punya jawaban kenapa dunia harus busuk begitu: tak ada yang mengerti saya.

Itulah kata-kata Adjeng kepada Asmoro (Ray Sahetapi), seorang penulis yang mementori Adjeng. Asmoro yang digambarkan sabar itu bahkan hanya seorang laki-laki brengsek yang pengen ngewe gratis dengan perempuan secantik Adjeng. Siapakah kiranya yang bisa memahami persoalan orang seperti Adjeng?

Memahami

Mungkin Djenar bisa. Seperti kata Adjeng dewasa, kenyataan memang bisa seburuk itu dan bahkan lebih brengsek lagi. Apa perlunya menutup-nutupi? Memang, dan mungkin Adjeng beruntung. Ia bisa keluar dari persoalannya dan kemudian menyembuhkan dirinya dengan memilih laki-laki yang ingin ia tiduri. Selain Asmoro, Adjeng juga secara rutin ditiduri oleh seorang bos (Joko Anwar) yang membayarinya sewa apartemennya itu.

Bagaimana cara memahami pemilihan Adjeng terhadap “korban-korban”nya ini? Keduanya tampak punya sumber daya yang cukup untuk dikerjai tanpa perlu ada soal luka masa kecil yang perlu disembuhkan. Asmoro tidak ngewe gratis, karena ia memberi mentoring kepada Adjeng dalam soal tulisannya sampai akhirnya tulisan Adjeng dimuat di koran. Pertukaran yang mungkin seimbang. Begitu juga dengan si Bos; tak usah ditanya. Ketika seorang playboy ganteng (Mario Lawalatta) mendekati Adjeng di sebuah klub, Adjeng cuma tahan sebentar dan kemudian muntah di kamar mandi.

Lantas apa perlunya Djenar membuat latar belakang penistaan seksual masa kecil untuk sebuah pertukaran seksual yang seharusnya berjalan seimbang dan biasa-biasa saja? Apakah Djenar sedang mencari legitimasi? Legitimasi luka masa kecil sebenarnya tak diperlukan bagi sebuah pertukaran yang seimbang macam itu. Bukankah sumber daya seks adalah salah alat tukar paling berharga dan tak akan berubah mungkin sampai akhir jaman?

Tak sulit mengakui hal ini, karena dua soal. Pertama, soal moralitas sudah sejak awal memang diletakkan jauh-jauh dalam cerita ini dan tak terlalu sulit juga menerima soal semacam ini. Kedua, di Mereka Bilang, Djenar bahkan sudah membecandai para penyindir dan pengejek “Sastra Wangi” justru dengan menampilkan nyaris seluruh inti omongan mereka.

Cerita Adjeng kecil memang sebuah tragedi yang bisa jadi pelajaran bagi banyak orang. Sayang sekali apabila kisah tragedi semacam ini kemudian hanya jadi pembelaan bagi posisi Djenar sebagai penulis. Alih-alih memberi inspirasi seperti yang dilakukan Maya Angelou, kisah ini malahan seperti mengabaikan bahwa luka itu pernah ada dan kemudian bermain-main dengannya.

Bisa jadi film ini sepenuhnya adalah otobiografi, tanpa ada bumbu fiksi sedikit pun. Jika demikian halnya, maka seperti kata Adjeng dewasa, kenyataan memang bisa lebih buruk daripada itu. Namun seorang penulis, seorang kreator, tetap bisa memilih apa yang ingin disampaikannya kepada khalayak. Apa sesungguhnya pelajaran yang diambil oleh Djenar dan hal yang ingin dikatakannya.

Mungkin monyetlah soalnya. Mungkin ada yang pernah berkata pada Djenar bahwa ia monyet dan itu memang sangat menyakitkan. Kini ia sedang membalas saja. Adakah demikian? Apapun, yang jelas Djenar perlu memulai dengan tudingan bahwa dunia memang sedang mengatainya monyet. Berbekal inilah maka ia jadi punya hak untuk mengatai balik. ***

Mereka Bilang, Saya Monyet!
Sutradara: Djenar Maesa Ayu
Produser: Djenar Maesa Ayu dan Riyadh Assegaf
Pemain:Titi Sjuman,Henidar Amroe,Ray Sahetapy,Bucek Dep,Agust Melasz,Jajang C. Noer,Arswendo Atmowiloto,Indra Herlambang,Joko Anwar,Ayu Dewi,Fairuz Faisal,Mario Lawalatta,Nadya Rompies,Banyu Bening PH: Intimasi Production
Durasi: 90 menit
Theatrical Release: 2007

Pertamakali terbit di: http://old.rumahfilm.org/resensi/resensi_monyet.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s