Lima Ratus Jalan Tak Berujung

Ini adalah kisah tentang orang-orang yang berusaha untuk menyelamatkan sebuah bangsa. Bangsa itu bernama Irak. Yeah, right! Tadinya saya berpikir bahwa sutradara Charles Ferguson sedang menawarkan sarkasme dengan caption seperti itu di menit pertama film.

Ternyata benar. Ia sedang menawarkan sarkasme. Tak tanggung-tanggung, ia menawarkannya secara detail. Seperti halnya Fahrenheit 9/11 (Michael Moore), film dokumenter ini juga menyerang kebijakan Amerika Serikat di Irak. Sebagaimana halnya Moore, film ini diawali dengan sebuah perspektif kuat tentang betapa kelirunya kebijakan itu. Film ini menyajikan tahap-tahap kekeliruan itu, siapa saja yang ‘bersalah’ dan apa bentuk kesalahan itu hingga ke tanggal-tanggal terjadinya kesalahan dan percakapan apa yang ada atau tak ada sehingga membuat kesalahan itu terjadi. Dengan detil seperti ini, kita bisa paham akan sarkasme Ferguson.

Sutradara Charles Ferguson seperti punya kesabaran berlebih untuk mengupas inkompetensi pemerintahan Bush satu demi satu, tahap demi tahap. Ia mengawali dengan gambaran betapa ditunggunya pasukan Amerika di Irak sesudah Saddam jatuh. Pasukan Amerika berfoto bersama dengan penduduk dan disalami di jalan-jalan. Sampai terjadilah penjarahan. Itulah sebuah titik balik karena ternyata tentara membiarkan saja penjarahan terjadi. Pembiaran itu berbuah pada pengorganisasian massa dan kekosongan hukum yang berkepanjangan.

Penjarahan itu memang meluluhlantakkan infrastruktur Irak. Juga warisan sejarah mereka. Museum nasional Irak dan perpustakaan nasional yang memuat koleksi bersejarah peradaban negeri antara sungai Eufrat dan Tigris itu hancur tak bersisa. Direktur museum mengiba kepada marinir Amerika untuk mengirim pasukan guna mencegah penjarahan di museum, tapi tak ada marinir datang. Tak ada koleksi yang tersisa dari sebuah warisan peradaban berusia ribuan tahun itu.

Semua kantor pemerintah juga hancur. Hanya satu kantor yang dilindungi oleh pasukan Amerika : kantor menteri perminyakan, dan kita paham betul mengapa. Ferguson tak melongok lebih jauh soal motif minyak itu. Ia lebih berkutat pada inkompetensi pemerintahan Bush ini.

Ternyata situasi paska-perang memang tak pernah diperhitungkan oleh Bush dan kawan-kawan sejak semula. Ketika Amerika akan menyerbu Jerman pada Perang Dunia Kedua, rencana paska-perang disusun dua tahun sebelumnya. Namun pada kasus Irak, hanya 60 hari persiapan sebelum invasi dilakukan. Manalah siap mengatur sebuah rencana membenahi puing paska perang?

Lalu dari penjarahan dan kekosongan hukum itu, masuklah mesjid. Sebagai institusi terkuat dan tertua di negara-negara Islam dan Timur Tengah, mesjid langsung memainkan peran. Pemimpin Syiah Muqtadha Al Sadr segera membentuk milisi tentara Mahdi yang langsung membangun kekuatannya. Mereka memberi kesulitan serius pada tentara pendudukan. Segera sesudah itu berbagai milisi, penguasa perang dan bahkan satuan keamanan komunitas menguasai Irak

Sementara itu, pemerintah Bush membentuk Office of Reconstruction and Humanitarian Assistance (ORHA) yang dipimpin Jendral Jay Garner. Namun ORHA memang terlambat. Lebih celaka lagi mereka tak punya rencana. Lebih-lebih celaka lagi mereka tak punya kontak di lapangan. Orang-orang kementrian berkaburan. Kantor tak ada. Telepon dan listrik tak tersedia. Dan secara literal, orang-orang ORHA berkeliaran di jalan-jalan bertanya “apakah kamu tahu orang yang pernah kerja di departemen ini dan itu?” Ini tanda bahwa Garner berniat melibatkan orang lokal di pembenahan ini.

Ferguson berhasil memperlihatkan inkompetensi Amerika Serikat di Irak. ORHA yang mulai memiliki kaki dan sedang mengumpulkan kembali para pejabat senior di Irak dibubarkan dan diganti dengan Coalition Provisional Authority (CPA). CPA dipimpin oleh Paul Bremer yang tak berlatar belakang militer, tak pernah berurusan dengan situasi pasca perang, tak bisa bahasa Arab. Dan lebih celaka lagi seperti yang digambarkan oleh Ferguson: tak mau mendengarkan orang lain.

ORHA dibubarkan dan Garner diturunkan dari posisi sebagai administrator Irak karena ia tak mau melakukan de-Baathifikasi, atau semacam pematian perdata bagi bekas anggota partai Baath. Program ini menghentikan sama sekali keterlibatan eks anggota partai Baath di kegiatan-kegiatan publik. Akibatnya, birokrasi Irak sebelum perang, yang kompeten maunpun yang tidak, harus berantakan karena pada dasarnya anggota partai Baath lah yang mengisi birokrasi selama ini. Garner yang sedang mendekati mereka untuk merekrut birokrasi lokal tentu tak sepakat dengan ide itu.

Kebijakan lain yang besar adalah: pembubaran tentara nasional Irak. Lima ratus ribu anggota tentara nasional Irak dengan banyak sekali tanggungan mereka. Akibatnya, terjadilah krisis besar-besaran secara militer maupun ekonomi. Di film ini, Ferguson memperlihatkan betapa keputusan seperti itu diambil tanpa konsultasi –bahkan tanpa pengetahuan– orang-orang di lapangan.

Betapa menulikan dirinya Amerika Serikat di Irak. Ferguson membandingkan dengan apa yang dilakukan oleh PBB. Kofi Annan mengirim salah satu utusan terbaiknya untuk menyusun rencana bagi Irak. Hal pertama yang dilakukan utusan PBB adalah: mendengarkan apa kata pemimpin politik di Irak. Tapi orang Irak sudah kelewat tak puas terhadap keadaan. Sang utusan pun tewas oleh sebuah ledakan bom mobil di kantornya. PBB pun angkat kaki. Tak ada lagi telinga untuk mendengarkan mereka.

Maka bagi film Ferguson ini, perlawanan adalah konsekuensi inkompetensi itu. Ferguson menunjuk hidung orang-orang yang bersalah di situ. Beberapa dari mereka mengakui kesalahan itu. Paul Hughes, kolonel yang berada di lapangan; Richard Armitage, deputi menteri pertahanan dan Jay Garner, mengakui bahwa mereka punya andil menciptakan kekacauan di Irak. Merekalah yang berusaha untuk mendengarkan dan mungkin bisa disebut pada ‘protagonis’ film ini. Orang-orang yang paling bersalah justru tidak bersedia diwawancara: Wolfowitz, Rumsfeld dan Chenney. Rumsfeld bahkan membuat komentar-komentar mirip lawakan kanak-kanak yang tak lucu setiap ditanya perkembangan di Irak.

Bush? Ferguson juga menunjuk hidungnya dalam soal ini. Sebuah tim dibentuk Pentagon untuk membuat master plan bagi Irak. Enambelas volume studi yang detil dibuat. Semua dibuat dalam executive summary-nya untuk dipresentasikan kepada presiden. Bahkan resume satu halaman dibuat agar dalam kurang dari semenit ide dasarnya tertangkap. Ferguson memperlihatkan sebuah resume wawancara bahwa Bush tak membaca sedikitpun naskah itu.

Sejarah tercatat di Irak dan di Amerika. Seorang serdadu bernama Hugo Gonzales bersaksi. Ia cacat tetap. Satu matanya tak bisa melihat lagi, pipinya berbekas luka, traumanya masih terus terbawa mimpi hingga kini. Ia berkata: saya berbuat yang terbaik bagi negara saya. Kalau suatu saat saya ditanya tentang Irak, saya ingin bisa berkata bahwa saya ikut serta membangun negeri itu. Itu saja.

Juga ketika Kapten Seth Moulton dimintai komentar. Kami mengorbankan sesuatu di sana, kata kapten marinir yang akrab dengan penduduk setempat itu. Jangan katakan kalau situasi sekarang ini adalah yang terbaik yang bisa dilakukan oleh Amerika. Itu menghina, katanya.

Film ini berubah menjadi emosional. Tak terhindarkan. Di E-Street Cinema di Washington DC, kota tempat saya menonton film No End in Sight ini, emosi semacam ini mungkin bukan baru sama sekali. Mungkin mereka lebih berhak ketimbang saya untuk emosi karena orang seperti Gonzales dan Seth Moulton bisa jadi adalah famili, sanak kadang atau kakak atau adik atau anak mereka.

Ferguson bertanya sedikit soal mengapa invasi ini dilakukan. Ia selintas menyinggung bahwa peristiwa 9/11 memang jadi alasan buat menyerang Saddam. Juga bagaimana intelejen Amerika diperintahkan mencari-cari kaitan antara Saddam dan Al-Qaida. Invasi ini memang petualangan segelintir orang sejak semula.

Dan seperti kata duta besar Irak sehabis invasi, Barbara Bodine, ada dua atau tiga jalan yang benar untuk membangun kembali Irak, dan ada limapuluh jalan yang keliru. Amerika Serikat telah menempuh jalan yang keliru ini; berulang-ulang. Dan Ferguson memperlihatkan lewat film dokumenter ini: Amerika –atau penguasanya sekarang ini– sama sekali tak belajar.

No End in Sight (Documentary, 2007)
Written, Produced and Directed by Charles Ferguson
Barbara Bodine, Chris Allbritton, Col. Lawrence Wilkerson, Col. Paul Hughes, Walter Slocombe, Seth Moulton, David Yancey, Gen. Jay Garner, George Packer, Gerald Burke, Hugo Gonzalez, Samantha Power, James Fallows, Linda Bilmes, Maj. Gen. Paul Eaton, Marc Garlasco, Matt Sherman, Nir Rosen, Paul Pillar, Ray Jennings, Richard Armitage, Robert Hutchings, Yaroslav Trofimov
Narrated by: Campbell Scott

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s