Kisah Cahit dan Sibel

Cahit Tomruk tinggal di Hamburg. Ia lahir tahun 1960 dan memasang poster Siouxsie and The Banshees di kamarnya. Punk belum mati bagi Cahit; sekalipun hidupnya sendiri tampak sudah. Sebagai seorang imigran Turki di Jerman, Cahit bukan orang kaya. Ia bekerja sebagai pemungut botol kosong di sebuah bar. Tak ada yang istimewa malam itu kecuali sebuah rutin bagi seorang yang self-destructive seperti Cahit. Pulang kerja, minum di bar, menolak undangan Maren, kencan regulernya, dan menendangi pelanggan bar lain yang meledeknya.

Lalu ia menabrakkan mobilnya ke dinding. Berikutnya: rumah sakit.

Di sanalah ia bertemu Sibel, perempuan 23 tahun yang punya semacam suicidal-tendency. Kalimat pertama yang diucapkan Sibel kepada Cahit adalah: will you marry me?

Sibel seperti seorang tahanan di keluarganya. Padahal keluarganya bukan kelompok manusia kolot yang menyebalkan. Bahkan keluarga Yunani dalam My Big Fat Greek Wedding saja terasa lebih mengesalkan. Namun justru lewat Sibel inilah kita dikenalkan pada karakter manusia yang mungkin juara dalam soal kontradiksi personal. Suicidal-tendency mungkin bukan padanan yang tepat bagi keriangan dan petualangan seksual pada Sibel. Namun justru Fatih Akin lewat filmnya ini membuat kita percaya bahwa manusia bisa berada pada titik kontradiksi sejauh itu.

Maka Sibel ingin lari dari keluarganya dan ia melihat Cahit sebagai jalan keluar. Cahit tak merasa dirinya pintu, maka ia menolak. Sampai akhirnya Sibel menyayat nadinya di depan Cahit dan merekapun menjalankan formalitas yang paling kerap dilakukan manusia: pernikahan.

Pernikahan; bukan seks. Tak ada seks bagi mereka –pada malam pertama sekalipun, Cahit mengusir Sibel keluar rumah karena bertanya tentang bekas istri Cahit. Pernikahan, dan bukan komitmen. Mereka toh bisa berhubungan seks dengan siapa pun yang mereka mau. Cahit masih meniduri Maren, kencan regulernya, seorang penata rambut. Sibel boleh tidur dengan siapa saja yang ditemui di bar mana saja. Tak perlu ada sakit hati karena pernikahan memang sebuah formalitas yang sudah selesai kegunaannya ketika Sibel keluar dari rumah keluarganya.

Potret yang dibuat Fatih Akin ini memang jauh dari segala macam klise. Persoalan imigran Turki di Jerman bisa jadi datang dari soal semisal alkohol di dalam coklat, diusir turun dari bus pada tengah malam, kekuatiran soal pekerjaan, dan berbagai macam latar semacam itu.

Fatih Akin memang sedang bicara soal manusia pada aras mendasarnya. Selain kontradiksi akut pada karakter Sibel, kita seakan dibuat tak peduli pada Cahit. Hidup Cahit seperti tak berubah ketika Sibel masuk ke dalam hidupnya, kecuali bahwa ia sedikit merapikan rambut, bercukur dan kamarnya jadi rapi oleh Sibel. Peristiwa kecil dalam keseharian Cahit bersama Sibel terlalu kecil untuk jadi tanda bahwa hidup Cahit sedang mengalami sebuah transformasi.

Namun kita dikejutkan dengan perkembangan berikutnya. Cahit ternyata merasa dirinya bisa terus hidup berkat Sibel. Selintas, Fatih Akin seperti sedang lupa pada penanaman motivasi dan penjelasan perkembangan karakter. Namun dengan menyerap karakter Cahit baik-baik, kita tahu bahwa ada sebuah luka mendalam yang pelan-pelan disembuhkan dalam diri Cahit. Penyembuh itu bernama Sibel; itulah pengakuan Cahit.

Sampai ternyata Hamburg terlihat seperti tak siap dengan apa yang mereka jalani. Hamburg yang “Barat” terasa sama saja tertegunnya menyaksikan konsep pernikahan Cahit dan Sibel. Konsep “open marriage” memang jadi terasa seperti mainan anak-anak bagi pasangan ini. Namun mereka tetap harus menerima semacam konsekuensi di Hamburg. Kematian dan penjara. Dan satu konsekuensi terpenting yang dipilihkan oleh Fatih Akin: diri mereka sendiri. Ada sesuatu yang tercabut dari keduanya bahkan ketika pernikahan sekadar formalitas. Karena memang semacam kebersamaan itu yang penting betul.

Maka bukan soal “Barat” atau “Timur”; “Eropa” atau “Asia” yang penting bagi Fatih Akin. Ia memang menggunakan nyanyian tradisional Turki dengan latar belakang Selat Bosphorus dan Hagia Sophia di kejauhan seakan trubadur yang mengantar cerita Cahit dan Sibel. Namun kita tahu bahwa ia sedang bercerita tentang sesuatu yang universal.

Head On (2004). Director: Fatih Akin. Cast: Birol Unel, Sibel Kelkilli.

Pertamakali terbit di: http://old.rumahfilm.org/resensi/resensi_gegen.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s