Lila Bilang Cinta

Kisah ini terjadi di Marseille. Menara kembar di New York sudah runtuh dan di Marseille sekelompok polisi merazia orang-orang bergamis dan berpeci putih. Namun bukan itu yang jadi soal dalam film ini. Para tokoh dalam film ini adalah anak-anak muda belasan tahun yang tak berurusan dengan politik. Mereka adalah Chimo dan gerombolannya. Setiap hari mereka berkeliaran di kawasan pemukiman Muslim semi-ghetto bagi kaum pendatang dari daerah Maghrib, Afrika Barat Laut. Di sana, harapan tampak tipis.

Chimo sedikit di antara yang punya harapan itu. Tak besar peluang seorang keturunan Arab di Perancis, kecuali jika ia berbakat seperti Zidane. Meski bukan pada sepakbola, Chimo punya semacam bakat itu. Guru Bahasa Prancisnya menjanjikan akan menuliskan surat rekomendasi agar Chimo mendapat beasiswa. Syaratnya, Chimo harus membuat 30 halaman sebuah cerita.

Tak masuk akal bagi Chimo yang belum pernah membaca satu pun buku sampai selesai. Pergaulannya dengan teman-teman satu gengnya tak memberi peluang besar ia memperlihatkan bakatnya. Belajar adalah sesuatu yang payah dan menggoda perempuan yang lewat adalah gagah.

Lewatlah perempuan itu. Namanya Lila. Umurnya belasan tahun berambut pirang. Lila melihat pada Chimo dengan pandangan yang mudah dikenali oleh laki-laki muda seperti Chimo: Lila menaruh hati padanya.

Benarkah? Apa itu menaruh hati? Lila tak terlihat seperti itu. Ia terlihat bercakap dengan Chimo di taman sambil menawarkan sesuatu: maukah kamu melihat vaginaku? Jika mau melihatnya sebentar, aku bisa menyingkap rokku, tapi jika mau lama, bisa kau lihat aku di ayunan. Kemudian Chimo berjalan mengikuti Lila ke ayunan.

Itu baru permulaan. Selanjutnya Lila memenuhi hari-hari Chimo dengan segala macam ucapan atau ajakan seperti itu. Lila bercerita ia bercinta dengan lelaki Amerika di sebuah gudang berwarna biru. Atau pertanyaan seperti maukah kau merekamku dengan kamera ketika aku melakukannya dengan lelaki lain? Mereka juga bersepeda bersama ke pelabuhan dan Lila memberi handjob kepada Chimo di atas sepeda.

Perempuan seperti apakah Lila ini? Lila seorang anak Prancis yang tinggal bersama bibinya di ghetto Muslim Marsellie itu. Ia baru saja dua minggu berada di sana. Bibinya punya kebiasaan aneh: memandangi vagina Lila; bahkan menyanyi untuknya. Baginya, Lila adalah bidadari dengan rambut dan jembut keemasan. Vaginanya patut dipandangi dan dipuja sedemikian rupa. Informasi ini menejelaskan bahwa Lila adalah korban dari sesuatu yang berurusan dengan seks. Itukah yang membuatnya menjadi setan penggoda yang menyamar jadi bidadari berambut emas berwajah kekanakan bagi Chimo?

Namun Lila memang tak tinggal di tabung udara vakum. Komunitas semi-ghetto Muslim Marseille ini bagai sebuah panggung yang menyediakan stok drama bagi tokoh-tokoh seperti Lila. Lila, yang seksualitasnya mencorong kemana-mana, segera memancing perhatian, terutama bagi Mouloud, teman nongkrong Chimo yang paling dekat. Penjelasan bagi corongan seksualitas seperti itu adalah: Lila perempuan murahan. Dan ini membuat Mouloud terobsesi pada Lila. Chimo sadar akan obsesi sahabatnya yang berperangai kasar itu dan pelan-pelan ia menarik jarak.

Sampai akhirnya tragedi itu terjadi. Moloud memperkosa Lila dan di situlah, seperti Chimo, kita juga terkejut akan sebuah kenyataan tentang Lila. Ia bukan setan yang turun ke bumi atau tidak juga memberi oral seks pada setan seperti yang diceritakannya kepada sang bibi. Ia hanya seorang perempuan dengan seksualitasnya yang eksplisit. Dan ia memilih Chimo untuk mengungkapkan seksualitasnya itu itu. Ia cinta pada Chimo dan ia punya cara sendiri untuk mengatakannya. Segala macam fantasi petualangan seksual itulah caranya menyatakan cinta pada Chimo. Sah saja orang dengan pilihannya, bukan?

Maka film ini tiba pada sebuah perbincangan penting: perempuan belasan tahun dan seksualitasnya. Topik ini bisa jadi bahan eksploitasi yang menyenangkan bagi para penikmat pornografi, terutama para pedofil. Lila yang berwajah tak berdosa dan pernyataan-pernyataan seksnya yang eksplisit sama dengan taktik yang dipakai Vladimir Nabokov untuk Lolita (nama Lila dan adegan berjemur di halaman belakang pun bisa dilihat sebagai homage bagi Lolita).

Namun, seperti halnya Lolita, Lila Says tak berhenti pada stimulus seksual seperti film porno. Film ini mau tak mau jadi membincang mengenai independensi ekspresi seksual seorang gadis remaja di sebuah semi-ghetto komunitas Muslim di Prancis. Mungkin di mana saja.

Lila Says sebagai film punya kecenderungan untuk menjadi lebih cerdas ketimbang penonton. Beberapa petunjuk sengaja ditanam oleh sutradara Ziad Doueiry untuk menyesatkan kita yang tak akan siap dengan sebuah kecohan di ujung film. Lihat saja, misalnya, mobil Mercedes besar yang kerap menjemput Lila.

Namun kecohan semacam itu memang perlu untuk membuktikan bahwa perbincangan tentang seksualitas perempuan muda seperti Lila memang mengganggu bagi penonton, bagi sistem nilai masyarakat apapun dan dimanapun. Kemapanan gagasan mengenai perlunya sikap sopan perempuan dalam mendekati laki-laki yang dicintainya diganggu dengan serius oleh film ini. Apa salahnya perempuan bilang cinta lebih dulu? Lebih jauh: apa salahnya bilang cinta dengan cara memperlihatkan vagina?

Siapa yang siap dengan pertanyaan seperti itu?

Lila Says (2004). Director: Ziad Doueiry. Cast: Vahina Giocante (Lila), Mohammed Khouas (Chimo), Karim Ben Haddou (Mouloud), Lotfi Chakri (Bakary)

Pertamakali terbit di: http://old.rumahfilm.org/resensi/resensi_lila.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s