Yes

No” is the saddest experience you’ll ever know (Aimee Mann – One)

Ketika membahas perbedaan film dengan teater, penulis dan kritikus Susan Sontag mengingatkan pada adanya medium dalam film. Film selalu diantarai oleh medium. Dengan medium itu film tidak tampil sebagai sesuatu yang utuh dan diobservasi secara terpisah oleh penontonnya. Melalui medium tersebut, film mampu menghadirkan kecairan. Melalui medium, hadir elemen seperti close-up, slow motion, fast motion dan sebagainya yang tak mungkin ditiru teater. Maka film adalah soal ruang dan waktu dan segala manipulasinya lewat sebuah medium.

Seorang perempuan sutradara asal Inggris, Sally Potter, tampak sadar sekali akan perbedaan antara teater dan film ketika menulis dan membuat filmnya, Yes. Film ini mengoptimalkan penggunaan berbagai elemen sinematis dalam menceritakan sebuah sebuah kisah cinta sederhana tentang perselingkuhan kaum high-brow di Inggris.

Yes bercerita tentang perempuan yang pada closing title hanya disebut sebagai she (Joan Allen). Perempuan keturunan Irlandia ini adalah seorang peneliti yang bersuami diplomat kaya. Ia jatuh cinta pada seorang koki, yang pada closing title disebut he (Simon Abkarian), asal Lebanon yang di negaranya adalah seorang dokter bedah. Lalu cinta mereka berjalan sebagai sebuah perselingkuhan antar kelas yang berbeda.

Perselingkuhan mungkin bukan tema yang istimewa jika Sally Potter tidak menggelontorkan tema-tema besar ke dalamnya. Ia mengerti konteks sebuah dunia dimana multikulturalisme sedang diuji oleh rangkaian prasangka sesudah peristiwa menara kembar di New York ditabrak pesawat jet itu. Kota London menjadi sebuah setting dimana prasangka kultural dan persoalan politik global mutakhir menjadi pilihan-pilihan yang sangat personal.

Potter juga memasukkan diskusi politik yang cenderung absurd. Tokoh nenek she adalah seorang perempuan berusia 80 tahun yang percaya pada komunisme dan bercita-cita untuk pergi ke Kuba. Di akhir hidupnya si nenek masih bergumam dalam koma tentang cita-cita politiknya itu, diselingi dengan kerinduan pada cucunya dan kesannya tentang kehidupan itu sendiri.

Teater versus Film

Naskah film ini sama kuatnya apabila diwujudkan dalam bentuk teater maupun film. Sedikitnya bisa dilihat pada dialog film ini. Dialog-dialog yang sangat puitis bagai naskah drama Shakespeare dalam film ini bisa tetap menarik diikuti jika seluruh peristiwa terjadi di atas panggung. Para tokoh bicara dengan bahasa yang ber-rima, sekalipun Potter tetap menjaga realisme dalam filmnya. Hal ini membuat film ini punya materi yang tak memerlukan pergerakan kamera yang hebat (bahkan bird eye’s view saja tak perlu), tak memerlukan editing istimewa dan tak membutuhkan spesial efek apapun.

Lihat dialog-dialog semacam ini:
we only have on go
there’s no dress rehearsal
this is the show

Dialog ini diucapkan secara voice over oleh tokoh nenek yang sedang koma menjelang kematiannya. Mata si nenek terpejam, mulutnya tak tampak mengucapkan apapun, hanya she berada di samping tempat tidurnya dengan gelisah. Di sinilah peran voice over dalam film tiba-tiba menyatukan antara ruang “di luar frame” (non-diegetic) dengan ruang di dalam frame. Sebuah elemen film tiba-tiba menyeruak masuk di tengah sytlisasi dialog yang sebetulnya cukup diceritakan tanpa stylisasi media film apapun.

Bahkan perdebatan di dapur restoran antara para pekerja dapur juga dipenuhi dengan rangkaian dialog sejenis. Kelas pekerja ini membicarakan mengenai prasangka etnis, kesempatan kerja dan sebagainya. Mereka bagai karakter yang diambil dari kotak wayang oleh sang dalang bernama Sally Potter yang menitipi mereka dialog-dialognya sendiri.

Memang ada dua macam dalang: dalang yang baik dan dalang yang buruk. Potter termasuk yang pertama. Para tokoh dalam filmnya memang tampak tak menginjak bumi dan hanya ada dalam konteks peruntukkan bagi filmnya. Namun kita tetap diajak untuk mengikuti pertunjukan itu dengan baik. Dialog-dialog penuh pretensi di film ini memang tak sedang berusaha membuat kita percaya pada realitas diegetic yang sedang disajikannya. Potter tampak seperti sedang mengerahkan para pemain film ini untuk membacakan puisi-puisinya dan menggunakan medium film untuk mengantarkannya kepada penonton. Caranya adalah dengan menyajikan stylisasi dimana elemen-elemen sinematis yang sederhana memastikan bahwa pertunjukan yang sedang disaksikan ini memang merupakan film, bukan teater. Potter memunculkan medium secara sadar pada materi pertunjukkannya. Justru dengan menggunakan elemen-elemen sederhana sebuah film.

Stylisasi Sederhana

Stylisasi Potter memang sederhana. Ia tidak mengubah format filmnya menjadi animasi seperti Richard Linklater dalam Waking Life. Ia juga tidak mengasosiasikan narasi dan persepsi atas pengalaman dengan perbedaan warna seperti yang dilakukan Zhang Yimou dalam Hero. Ia juga tidak melakukannya dengan membangun mood lewat tata artistik dan sinematografi seperti Tim Burton dalam kebanyakan filmnya. Ia juga tidak bermain dengan slow-motion dan fast-motion dalam satu frame atau repetisi shot mikroskopis yang digabung dengan extreme close-up seperti Darren Arronofsky dalam Requiem for A Dream. Potter sekadar menggunakan teknik-teknik dasar dalam filmmaking untuk tetap memperlihatkan kekuatan medium filmnya.
Teknik semisal voice over atau slow motion digunakan Potter sebagai alat stylisasi untuk kepentingan bangunan cerita filmnya. Beberapa kali dialog diegetic dilanjutkan dengan narasi voice over yang asynchronous untuk menegaskan berhimpitnya waktu atau dua suasana film yang berbeda. Teknik ini begitu mendasarnya, tapi Potter berhasil menunjukkan letak kekuatannya dengan baik pada film ini. Demikian pula slow motion yang membuat suasana hati tergambar lebih kuat.

Musik, baik scoring dan source, (yang beberapa juga merupakan komposisi buatan Sally Potter sendiri) juga berhasil memberikan lapisan emosinya sendiri. Lihat saja adegan makan malam dalam perjumpaan pertama she dan he. Pada adegan tanpa kata inilah terlihat dengan jelas bagaimana hubungan she dan suaminya memang terganggu. Musik yang mengalun sepanjang adegan bagai merayakan kegelisahan sang perempuan dalam memandang suaminya di satu sisi serta kehadiran si lelaki berkumis yang misterius itu di sisi lain.

Salah satu kunci terbesar keberhasilan ambisi Sally Potter ini adalah akting. Terutama pada Joan Allen yang mampu menjadi tumpuan seluruh cara tutur yang diajukan oleh Potter. Betapa tergambarnya paduan kegelisahan dan daya tahan diri seorang aristokrat dalam diri she.

Sally Potter akhirnya mengingatkan bahwa teknik filmmaking sederhana masing punya daya tonjok yang kuat jika cerita yang ingin disajikan memang kuat. Sikap, pemihakan bahkan pretensi tetap bisa dilakukan dengan baik tanpa harus mengorbankan drama. Kenyataan tetap bisa dikomentari dengan memikat, dan tidak harus berlepas tangan terhadapnya dengan alasan untuk menghibur saja.

Kelemahan mendasar film ini adalah pada ending cerita. Saya membayangkan she berada di Havana, Kuba dan he berada di Beirut, Libanon bersama keluarganya. Mereka terpisah ribuan kilometer tapi pikiran mereka satu. Sehingga ketika she menyapa ‘hai’ dengan lembut, he yang sedang melamun di tengah keramaian itu pun menengok sapaan itu. Sekalipun jarak itu sangat jauhnya.

Namun ini semua hanya bayangan saya. Karena ending sesungguhnya dari film membuyarkan segala puji yang panjang lebar saya tuliskan ini. Banalitas yang ditawarkan Potter terasa mengganggu. Sekalipun jelas ini adalah pilihan. Potter percaya para tokoh dalam filmnya punya determinasinya sendiri ketika mereka menjawab “ya” sejak kali pertama hubungan mereka terjadi. Sama determinannya dengan segala proses filmmaking yang dilakukan Potter sendiri dalam film ini.

Yes (2004). Director: Sally Potter. Cast: Joan Allen, Simon Abkarian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s