Bermain Daun Jati, Bermain di Candi

Dari chaos, manusia mencari ritme. Ritme yang berulang dan berubah membentuk struktur. Urutan-urutan itu bisa dibalik, tapi itulah esensi proses penciptaan seni. Manusia selalu terlibat dalam proses permainan semacam itu dalam sejarah keberadaannya, mulai dari yang paling purba semisal tarian di seputar api unggun, sampai yang paling mutakhir dengan peralatan berteknologi tinggi.

Permainan macam itulah yang jadi benang merah bagi pertemuan dua bentuk kesenian yang berasal dari dua dunia yang sama sekali berbeda dalam film Garin Teak Leaves at the Temple. Dunia pertama adalah komunitas pedesaan di kawasan sekitar gunung Merapi – Merbabu yang rutin mengadakan perjamuan kesenian tahunan tradisional. Dunia kedua adalah tiga orang musisi yang terdiri dari Guerino Mozzola, Heinz Geisser, dan Norris Jones, yang beraliran free jazz, sebuah aliran musik jazz dimana semua pemainnya berimprovisasi dan memainkan musik tanpa aturan-aturan baku sama sekali.

Kedua dunia itu bertabrakan; apakah yang tercipta? Sebuah total chaos. Perhatikan bagaimana kelompok musik ‘akapela’ tradisional berusaha “mengejar” ritme para pemain trio free jazz ini tanpa pernah berhasil. Atau perhatikan juga bagaimana ketiga musisi dari Selandia Baru itu mencoba “memerangkap diri” dalam permainan ritmis kelompok Seni Sono, dan juga tak kunjung bertemu.

Inilah sebuah proses berkesenian – bermain-main – yang sedang dibalik oleh Garin Nugroho. Ia tak memulai dari chaos menuju struktur yang utuh, tapi sebaliknya. Ia merekam jam session antara kelompok musik dari dua dunia yang masing-masingnya utuh itu dan menangkap bagaimana chaos terbentuk darinya. Bisa saja dengan gagah Garin berkata bahwa ia sedang menciptakan estetika chaos lewat film ini, tapi sesungguhnya ia sedang menjadi pelayan bagi para seniman lain yang energinya demikian besar. Dan posisi Garin sebagai pelayan ini justru memperlihatkan keberhasilan terbesarnya menangkap esensi kebermainan para seniman dari dua dunia terpisah ini.

Pendekatan ini menekankan pemahaman Garin yang baik terhadap posisinya sendiri sebagai seniman. Ia mengerti bahwa ia hidup di dua dunia itu: dunia seni tradisional yang ditemuinya sebagai seorang seniman dari Jogja dan dunia seni global dimana ia menjadi bagian darinya. Ia tetap menggunakan pendekatan dunia antara ini untuk merekam energi para seniman ini, dan hasilnya adalah sebuah karya yang sangat sadar diri dan posisi. Bahkan dengan editing dan tata suara yang tepat, Garin bisa menghadirkan ‘musik’ dari kegiatan keseharian penduduk desa sekitar tempat perekaman itu.

Kekuatan utama Garin Nugroho ini memang belum pernah bisa disaingi oleh sutradara lain di negeri ini. Kegiatan pendokumentasian pentas seni ini berubah menjadi sebuah karya tersendiri tentang para seniman yang bermain-main. Perhatikan sekali lagi bagaimana seniman kampung tak tamat SMP berpakaian Superman itu membuat pernyataan sikap tentang kesenian, tuhan dan kehidupan (tak terduga, sama seperti jazz, katanya) atau bagaimana salah seorang anggota kelompok free jazz itu mencoba memahami struktur candi Borobudur dan menganggap jam session mereka di Merapi – Merbabu itu seakan sedang meniru proses pembentukan struktur tanah, badan dan langit semacam Candi megah dan misterius itu. Permainan bisa arbitrer begitu, tapi bisa juga demikian konseptual.

Maka daun jati yang diletakkan di pelataran candi, bunga yang dijajarkan di tepi sungai, hingga grafiti Eko Nugroho di dinding yang terhempas gempa di Jogja tahun 2006 lalu adalah sebuah catatan kecil tentang permainan yang tanpa batas. Garin tak hanya mencatatnya, tapi juga menjadi bagian dari permainan itu sendiri. Sebuah karya “kecil” tak berambisi besar, yang justru sempurna.***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s