Islam yang Akrab

Pesantren adalah subkultur? Bisa jadi pernyataan Abdurrahman Wahid beberapa dekade lalu itu ada benarnya. Namun Nurman Hakim tak repot dengan itu. Film 3 Doa 3 Cinta yang disutradarainya ini terasa dibuat tanpa ambisi berlebih dan seakan berkata: ‘ini adalah pesantren yang saya kenal dan saya tak terlalu peduli pada definisi dan segala anggapan tentangnya’. Namun dengan bicara itu, ternyata Nurman Hakim bicara tentang sesuatu yang lebih besar: Islam di Indonesia.

Islam di Indonesia tak pernah monolitik, dan itu jelas. Maka film Islam juga seharusnya tidak menggambarkan Islam secara monolitik. Sampai di sana juga jelas dan Nurman bukan yang pertama. Asrul Sani dan Chaerul Umam sudah membuat film dengan muatan Islam yang beragam dalam Titian Serambut DibelahTujuh, Al Kautsar dan Nada dan Dakwah. Namun ada perbedaan besar antara ide Islam yang dibawa kedua orang legenda film Indonesia ini dengan ide Nurman.

Pada 3 Doa, Nurman mengantar sebuah kronika, sebuah kumpulan pernak-pernik kehidupan sehari-hari yang dialami oleh 3 orang tokohnya. Mereka bukanlah bagian dari orang-orang dengan aspirasi besar untuk mengubah keadaan masyarakat yang jahiliyah atau sesat, dan bukan pula sedang menghadapi situasi penuh konflik yang sedang menentukan hidup mati mereka. Drama dalam film ini adalah sebuah drama biasa, sebuah coming of age, yang bisa menimpa sesiapa saja dengan agama apa saja.

Maka sebuah dimensi baru dalam soal Islam terpapar dalam film ini: Islam adalah bagian dari kehidupan sehari-hari manusia Indonesia yang tak perlu lagi pendefinisian mencari-cari identitas dan tempat dalam sejarah. Ia sudah menjadi bagian dari sejarah. Ia tak perlu jadi tenaga penghela perubahan dunia. Ia memang ada, beragam, dan dipercaya sebagai bagian dari perilaku sehari-hari. Dan ragam Islam itu akhirnya juga mempengaruhi jalan hidup ketiga tokoh dalam film ini. Islam menjadi sesuatu yang familiar dan menjadi bagian hidup sehari-hari.

Familiarisasi Islam ini menjadi kekuatan utama 3 Doa. Saya berani mengatakan bahwa inilah salah satu model terbaik “film Islam” dalam pengertian yang sama sekali tak mengandalkan semata-mata pada ungkapan simbolis. Islam sudah menjadi kultur yang akrab. Lewat ketiga tokoh utama, peristiwa-peristiwa keseharian tidak perlu lagi dilabeli “Islami” atau “tidak Islami” karena Islam sudah terterima sebagai bagian hidup dan masalah yang mereka alami serupa belaka dengan masalah manusia Indonesia lainnya.

Kisah film ini adalah 3 orang sahabat di sebuah pesantren kecil di Jawa Tengah. Cerita paling menonjol adalah tentang Huda (Nicolas Saputra), santri tampan yang ingin sekali mengetahui keberadaan ibunya. Diam-diam ia menemukan semacam sosok ibu pada seorang penyanyi dangdut keliling, Donna Satelit (Dian Sastro) yang selalu nyekar ke makam dekat pesantrennya selagi pertunjukan dangdutnya ada di kota itu. Hubungan terbangun antara mereka, tapi bukan sebuah roman yang panjang. Nurman hanya ingin menggambarkan sesuatu yang sederhana yang jadi persoalan semua anak seusia Huda: perkenalan dengan seks.

Bayangkanlah bahwa film ini berkata: pelajaran seks –sebuah ciuman di bibir– dari Donna Satelit yang, ketika di panggung, roknya tak menutupi celana dalamnya, telah membentuk seorang calon kyai pengasuh pesantren. Dengan cara semacam inilah Islam di Indonesia tumbuh: oleh manusia-manusia yang hidup dengan segala apa yang ada pada dirinya, bukan dengan seakan-akan hidupnya sesempurna malaikat kemudian melabel orang tak sepandangan dengannya sebagai ‘kafir’, ‘antek Amerika’ lantas merasa berhak untuk mementungi mereka dengan bambu.

Sebuah dramatic irony yang halus terjadi ketika di ujung film, Huda akhirnya menjadi (minor spoiler alert!) suami dari anak Kyai pemilik pesantren dan meneruskan ayah mertuanya menafsir kitab kuning untuk murid-muridnya. Wajah Kyai muda simpatik dengan kumis tipis itu terlihat masih menyisakan semacam jejak ‘petualangan’ dengan Donna Satelit, sekalipun tentu ia akan menjadi seorang kyai bijaksana dan sayang pada istrinya yang juga cantik.

Tokoh kedua, adalah Rian (Yoga Pratama), santri dari kelas menengah yang mendapat hadiah kamera video dari ayahnya. Ia menjadi bagian dari keseharian kehidupan pesantren itu sekaligus merekamnya, sebuah tradisi pencatatan diary kontemporer. Seperti halnya Catatan Akhir Sekolah, 3 Doa menegaskan penguatan kecenderungan tradisi menulis diary berubah menjadi merekam dengan video. Rian inilah yang bisa jadi lantas tampil sebagai Nurman yang mengantar kronika ini kepada Indonesia kini.

Kecintaan Rian pada film membuatnya terhubung dengan sebuah pertunjukan layar tancap keliling. Sebuah dunia “Cinema Paradiso” mini yang khas milik Asia (lihat juga misalnya padaThe Sun Also Rises karya sutradara Jiang Wen, 2007) yang menggambarkan bahwa tradisi dan kecintaan terhadap sinema tidak hanya menjadi milik kaum urban, tetapi merupakan sesuatu yang universal, termasuk juga milik kaum muslim Indonesia.

Tokoh ketiga adalah Sahid (Yoga Bagus) yang mencoba menjalankan Islam sebaik-baiknya. Sahid yang di setiap waktu luang selalu mengaji dengan menggunakan Quran kecil kemudian bertemu dengan seorang ustad di luar pesantren. Ustad ini sempat membuatnya merasa lebih beriman dengan mengobarkan semacam kebencian. Keinginan sederhana Sahid lantas tiba pada sebuah gambaran persoalan kontemporer yang menghubungkan kepolitikan global kontemporer dengan dunia santri yang kecil di kota pedalaman yang tak penting di sebuah negara berkembang.

Kisah Sahid ini merupakan sebuah komentar terhadap keberagaman Islam yang bisa jadi agak khas Indonesia. Fragmen ini membuat persoalan Islam kontemporer dan tuduhan Islam sebagai biang terorisme tidak sekadar sebagai latar belakang untuk kisah lain. Bayangkanlah bahwa niat keber-Islam-an yang tulus dan sungguh-sungguh bagi seorang Muslim di Indonesia begitu dekat dengan tindakan yang diberi label terorisme oleh kesepakatan global.

Kemiskinan yang menjadi latar belakang kehidupan Sahid menjadi semacam catatan kaki bagi persoalan Islam di Indonesia ini. Dengan jitu Nurman memberi komentar bahwa keterlibatan orang Islam pada hal yang digolongkan sebagai terorisme tidak bisa dinisbahkan pada kemiskinan begitu saja. Sebuah pendekatan yang simpatik dalam melihat Islam, bisa jadi karena keakraban Nurman dengan pokok soal (subject matter) yang dikerjakannya.

Menarik sekali membandingkan fragmen tentang Sahid ini dengan film In The Name of God (Khuda Khay Liye, diputar di Jiffest 2008) dari sutradara Pakistan, Shooaib Manshoor, yang menceritakan soal niatan keberislaman serupa dari seorang penyanyi yang membuatnya akhirnya menjadi tentara Taliban berperang melawan Amerika, padahal ia seorang pecinta damai. Di Pakistan, latar belakang politik negeri itu memungkinkan orang tulus itu menjadi tentara Taliban. Di Indonesia, ia adalah bahan baku penting bagi bom bunuh diri.

Baik 3 Doa dan Khuda Khay Liye sama-sama membicarakan keberislaman yang tulus di tengah kepolitikan global yang membuat orang-orang biasa dan saudara-saudara kita tak bisainnocent saja ketika mereka diubah menjadi semacam mesin pembunuh atas nama Islam atau Tuhan.

Semua kehidupan anak-anak muslim muda ini ditampilkan oleh Nurman Hakim dalam penggambaran yang sederhana dan sama sekali tak berambisi. Penyutradaraannya demikian polos sehingga ia seakan lupa membangun tensi dramatik filmnya. Kegagalan bangunan dramatik itu terjadi karena: pertama, ia begitu akrabnya dengan pesantren sehingga tak merasa perlu mengenalkan pesantren lebih jauh. Bandingkan dengan Fiksi. (Mouly Surya) yang memperkenalkan rumah susun bagai sebuah sirkus dunia nyata bagi latar belakang tokoh-tokohnya. Tanpa perlu memandang kelewat eksotik terhadap dunia pesantren, Nurman tetap bisa menyajikan pesona terhadap dunia itu.

Kedua, penyutradaraan yang polos dan rendah hati ini, celakanya, diiringi oleh editing yang sama sekali tak kreatif. Editor senior Sastha Sunu seperti sedang mengikuti shooting list saja yang diberi sutradara dan tak berusaha memberi tekanan apapun pada cerita. Plot menjadi tidak dinamis dan film ini seakan kehabisan energi di tengah-tengah. Bisa jadi Sastha kehabisan syut untuk memberi aksentuasi seperti syut cover pada benda-benda atauestablished shoot untuk memperlihatkan lokasi, tapi editor paling senior yang masih aktif ini tak menolong kepolosan penyutradaraan Nurman agar bisa menjadi lebih hidup.

Namun, bagaimanapun, 3 Doa 3 Cinta merupakan sebuah karya yang lahir dari sebuah dunia yang intim dan diketahui dengan baik. Nurman telah berhasil mengantar sebuah dunia yang sangat khas, tapi pada saat yang sama juga akrab. Nurman berhasil menghindar dari hanya asyik dengan dunianya sendiri, justru ketika ia dengan tulus dan rendah hati tampak ingin bercerita saja.

Maka, alih-alih membawa sebuah subkultur yang asing dan abai terhadap penonton, pesantren sebagai latar belakang 3 Doa 3 Cinta berhasil membawa gambaran sebuah dunia Islam yang akrab dan universal milik Indonesia.***

Pertamakali terbit di: http://www.rumahfilm.org/resensi/resensi_3doa3cinta_1.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s